5 April 2024, 01.21 wita
Aku tak kuat lagi membendung air mataku dan menangis dihadapanya, dihadapan anak pertamaku. Dilihatnya aku menangis dan berkata "mama jangan menangis".
Sungguh hatiku hancur sekali dengan keadaan saat ini. Aku baru saja melahirkan anak keduaku, berkutak dengan dua anak tanpa kehadiran suami setiap malam membuatku lelah dan stress, ditambah ASI yang tak kunjung deras untuk mencukupi kebutuhan anak keduaku sehingga dia seringkali gusar dan menangis membuatku kelelahan.
Dan pula anak pertamaku yang masih belum mengerti banyak hal layaknya orang dewasa. Namun seringkali aku memarahinya, ketika dia bersikap tak sesuai inginku, atau mengganggu adiknya, atau menunjukkan perlawananya.
Dan itulah sebabnya air mataku.
Kulihat dia, si anak pertamaku, yang selama masa pengasuhanya tak pernah menyusahkanku, rebahan sendirian di kasur menjelang tidur malamnya.
Seketika terbayang masa-masa saat dia menjadi satu-satunya, aku selalu menemaninya tidur berdua. Namun kali ini dia tersisih, aku terus saja tidur disamping adiknya beberapa malam ini, dikarenakan, ya tentu saja aku harus menyusui anak keduaku setiap malamnya. Pun ditambah aku sering memarahinya akhir-akhir ini, maka mengucur deraslah air mataku bagai hujan.
Aku sungguh terluka karena telah melukainya.
Aku mencintainya sepenuh hatiku, tak pernah kurang.
Namun keadaan benar-benar membuatku kacau.
Semoga esok lebih baik ya Nak.
Mama akan berusaha menjadi mama yang baik untukmu dan adikmu.
Mama tak ingin kamu merasa bahwa cinta mama telah berkurang.
Mama tidak sudi melukai hatimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar