Bagaimanapun, selepas isya tadi, segala sesuatu telah berhasil membuatku bersedih. Aku harus bagaimana? menyesali mataku yang tak mampu melihat ini? Sesosok bayangan diseberang sana, terhalang gerimis, seorang teman lama yang masih kuharapkan mendekatnya silaturrahmi. Ingin rasanya menyapa, bahkan hanya sekedar berkata apa kabar. Bagaimana aku bertanya? kedua mataku melihatnya, tapi tak mampu mengenali wajah siapa diseberang sana. Betapa sombongnya aku dimatanya. Betapa pilunya hatiku setiap kali situasi ini terjadi. Siapa yang harus kusalahkan? Mata inikah?Bagaimanapun. Saat orang yang kamu harapkan untuk bertegur sapa denganmu kini membencimu dan menyalahkanmu, tetap saja ini adalah rasa sakit. Bukankah rasa sakit itu cobaan?. Bukankah ketika sabar menghadapinya itu adalah dosa-dosa yang berguguran?. Maka aku harusnya sabar. Sabar menghadapi pedih ini. Tenaglah diriku. kita punya Allah. Allah tidak membebani hambaNya melebihi batas sanggupnya. Allah pastikan sesuatu yang terbaiklah yang telah terjadi hari ini.
Bagaimanapun, ketika seseorang mampu bersabar, inipun karunia dari Allah.
Bagaimanapun, ketika Allah menimpakan kepedihan, Dia pula yang menganugerahkan kesabaran.
Bagaimanapun, tenanglah. Kau punya Allah yang akan membuat baik semua kesudahan.