MAKALAH SEJARAH PERADABAN ISLAM
SEJARAH ISLAM MASA KHULAFAUR RASYIDIN
Dosen Pengampu :
Dr. M. Daud Yahya, M.Ag
Disusun oleh kelompok 3:
Hilmiyati 1401240738
Hushdiah 1401240739
Jamilah 1401240742
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI BANJARMASIN
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
2015
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah yang telah
memudahkan segala hal untuk penyusunan makalah ini. Sholawat serta salam tak
lupa kita hanturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW.
Sejarah
Peradaban Islam adalah mata kuliah wajib pada kampus-kampus Islam di Indonesia.
Bidang studi ini menjadi sangat penting, karena kita tidak mungkin dapat
mengenal Islam secara sempurna tanpa mengenal sejarah peradabanya.
Mempelajari
sejarah peradaban Islam, berarti telah menyeret kita untuk masuk ke zaman
kejayaan dan kesedihan di masa lalu. Mempelajari sejarah peradaban Islam akan
membuat kita bangga, menangis, mencintai, berjuang, dan mempertahankan agama
ini dengan sepenuh hati.
DAFTAR
ISI
Kata Pengantar ........................................................................................................ i
Daftar Isi ................................................................................................................. ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ....................................................................................... 1
B. Rumusan
Masalah...................................................................................
1
C. Tujuan Penulisan .................................................................................... 2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Selayang
Pandang
..............................................................................,... 3
A. Abu Bakar as-Shiddiq
........................................................................... 4
B. Umar bin Khattab.................................................................................... 8
C. Utsman bin Affan.................................................................................... 11
D. Ali bin Abi Thalib................................................................................... 16
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan............................................................................................. 20
B. Saran........................................................................................................ 20
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 21
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Setelah Rasulullah Saw. wafat, kepemimpinan digantikan oleh sahabat
Abu Bakar as- Shiddiq. Kemudian berturut- turut digantikan oleh Umar bin
Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Kepemimpinan khalifah yang
empat inilah disebut dengan Khulafaur-Rasyidin.
Kepemimpinan Khulafaur-Rasyidin
adalah satu-satunya sistem pemerintahan yang dibangun secara demokratis sesuai
dengan pesan dan wasiat Rasulullah Saw. Dengan berakhirnya khulafaur-Rasyidin,
berakhir pula sistem pemerintahan demokrasi yang kemudian digantikan dengan
sistem pemerintahan yang berupa kerajaan.
Pada masa
pemerintahan Khulafaur-Rasyidin terdapat banyak peristiwa- peristiwa penting
yang menjadi titik tolak sejarah pada masa-masa berikutnya. Untuk itu, sangat
penting bagi kita untuk mempelajari lebih dalam tentang peristiwa-peristiwa
yang terjadi pada masa tersebut.
Maka untuk
keperluan diatas kami menyusun makalah ini, yang membahas tentang sejarah Islam
dan peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pada masa Khulafaur-Rasyidin.
B. Rumusan
Masalah
1. Apa saja peristiwa penting yang terjadi pada masa kepemimpinan
Abu Bakar As-Shiddiq?
2. Apa saja
peristiwa penting yang terjadi pada masa kepemimpinan Umar bin Khattab?
3. Apa saja
peristiwa penting yang terjadi pada masa kepemimpinan Utsman bin Affan?
4.
Apa saja peristiwa penting yang terjadi pada masa kepemimpinan Ali bin Abi Thalib?
C. Tujuan
Penulisan
Tujuan ditulisnya makalah ini adalah untuk memberikan informasi
kepada pembaca tentang sejarah dan peristiwa-peristiwa penting yang terjadi
pada masa Khulafaur-Rasyidin.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Selayang Pandang
Wafatnya Nabi
Muhammad sebagai pemimpin agama maupun Negara menyisakan persoalan pelik. Nabi
tidak meninggalkan wasiat kepada seorangpun sebagai penerusnya. Akibatnya, para
sahabat mempermasalahkan dan saling
berusaha untuk mengajukan calon pilihan dari kelompoknya. Ahmad Amin
mencatat sedikitnya ada tiga kelompok yang berkeinginan menjadi penerus nabi,
yaitu:
a. Golongan/ kelompokAhli Bait yang
menjadi calonnya adalah Ali bin Thalib karena yang paling berhak adalah para ahli-ahli bait
Rasulullah sendiri
b. Kelompok Anshar calonnya adalah
Saad bin Ubadah karena golongan Anshar merupakan golongan penolong Nabi disaat
Nabi teraniaya di makkah dan beliau pun meninggal
dalam keadaan puas terhadap Anshar
c. Kaum muhajirin calonya adalah Abu
Bakar as-Shidiq karena kaum Muhajirin merupakan kaum yang pertama mempercayai
ajaran Nabi dan selalu menemani beliau dalam keadaan suka dan duka
Perselisihan
tersebut berdampak pada tertundanya pemakaman Rasulullah serta terjadinya
peristiwa saqifah dimana Abu Bakar di baiat sebagai penerus Nabi.
Masa khulafaur
Rasyidin merupakan masa keemasan, zaman ideal, dimana pemerintahan dijalankan
seperti halnya pemerintahan masa Nabi. Indikator yang dapat dilihat adalah:
1. Pembentukannya dengan suara rakyat
2. Kepala negaranya merupakan pilihan rakyat
3. Pemerintahan dijalankan dengan Musyawarah
4. Kedaulatan Hukum Ilahi
diaplikasikan dalam kehidupan bernegara, sehingga terdapat keyakinan bahwa segala gerak-gerik
dipertanggung jawabkan kepaada Allah
5. Kekuasaan Negara tidak didominasi oleh kelompok satu
Selain mampu
menciptakan tatanan pemerintahan ideal, masa khulafur rasyidin terkenal dengan
kemampuannya mengalahkan dua imperium besar sebelumnya yaitu Persia dan Roma.
[1]
Masa Khulafaur
Rasyidin dimulai dari pemerintahan Abu Bakar as-shiddiq dan berakhir pada masa
pemerintahan Ali bin Abi thalib. Berakhirnya masa Khulafaur Rasyidin menandakan
berakhir pula sistem pemerintahan Islam secara demokrasi, yang kemudian
digantikan dengan sistem kerajaan pada masa Dinasti Bani Umayyah.
B. Masa Kekhalifahan Abu Bakar as-shiddiq RA(11-13H/632-634 M)
1. Bai’at Abu Bakar
Rasulullah Saw.
tidak meninggalkan wasiat tentang siapa yang akan menjadi pemimpin kaum
muslimin sepeninggalanya. Maka setelah Rasulullah Saw. wafat, berkumpullah kaum
Anshar dirumah bani Sa’adah di Madinah. Mereka berkumpul untuk membaai’at Sa’d
bin Ubadah seorang Anshar pemimpin kaum Khazraj untuk menjadi khalifah.
Kemudian datang
sekelompok kaum Muhajirin menyatakan ketidaksetujuannya. Dalam pertemuan ini,
hampir saja terjadi sengketa sengit diantara kelompok Anshar dan Muhajirin.
Kemudian Abu Bakar bangkit mengemukakan pendapatnya, dan mencalonkan Umar dan
Abu Ubaidah bin al-Jarrah untuk menjadi khalifah.
Maka bangkitlah
Umar menuju Abu Bakar lalu membai’atnya sebagai Khalifah, seraya berkata
kepadanya: “Bukankah nabi telah menyuruhmu wahai Abu Bakar, agar mengimami kaum
muslimin dalam sholat? Engkau khalifah pengganti dan penerus beliau. Kami
membai’atmu sehingga kami berarti membai’at sebaik-baik orang yang paling
dicintai Rasulullah Saw. dari kami semua”. Maka secara berturut- turut kaum
Muhajirin dan Anshar yang berada disana membai’at Abu Bakar. Kemudian keesokan
harinya, duduklah Abu Bakar di mimbar masjid Nabawi dan secara umum kaum
muslimin membai’atnya.[2]
2. Kebijakan Abu Bakar
a. Mengirim Usamah bin Zaid menaklukan perbatasan Syiria
Setelah menjadi khalifah, yang pertama-tama
menjadikan perhatian Abu Bakar adalah melaksanakan keinginan Nabi yang hampir
tidak bisa terlaksana, yaitu mengirimkan suatu ekspedisi di bawah pimpinan
Usamah ke perbatasan Syiria untuk membalas pembunuhan ayah Usamah, yaitu Zaid,
dan kerugian yang diderita oleh umat islam di dalam perang Mut’ah. Akan tetapi
keadaan di dalam negara islam saat itu memburuk. Kabar tentang wafatnya Nabi
merupakan isyarat bagi beberapa suku Arab untuk melepaskan kesetiaan mereka
dari Negara kota Madinah. Oleh kerena itu, anggota-anggota Majelis Syura
berpendapat bahwa keberangkatan Usamah akan membuat kota itu kurang pertahanan,
dan banyak yang setuju untuk menunda ekspedisi itu. Akan tetapi, Abu Bakar,
orang yang bersikap keras, menolak usul mereka. Ekpedisi itu ada pengaruhnya.
Keberanian Abu Bakar untuk melanjutkan pengiriman ekspedisi meyakinkan
orang-orang Badui keadaan kekuatannya di dalam negeri.
b. Memerangi Kemurtadan dan Nabi- Nabi Palsu
Keperibadian Nabi
Muhammad yang dinamis menyebabkan seluruh bangsa Arab bersatu. Di samping itu,
banyak suku Arab yang mengaggap bahwa persetujuan mereka dengan Nabi sebagai
persetujuan pribadi yang berakhir dengan wafatnya Nabi. Segera setelah kabar tentang wafatnya Nabi sampai ke
luar negeri, unsur-unsur yang tidak mau menurut mulai bangkit. Sejumlah suku
mulai melepaskan diri dari kekuasaan Madinah dan menolak memberikan
penghormatan kepada khalifah yang baru, atau menolak perintahnya. Sebagian di
antara mereka bahkan menolak Islam.
Pembayaran zakat
yang tidak terjangkau pemikiran bangsa Arab. Untuk pertama kali mereka
diharuskan membayar zakat kepada pembendaharaan pusat di Madinah. Tentu saja
ini berarti penurunan kekuasaan, dan hal itu tidak disukai oleh suku-suku itu.
Keberatan mereka bukan terhadap Islam, melainkan terhadap zakat. Keadaannya
menjadi sangat genting. Madinah sendiri terancam oleh gerombolan-gerombolan
Badui yang dipelajari oleh suku Ghatafan yang kuat. Banyak sahabat, termasuk
Umar, menganjurkan bahwa dalam keadaan-keadaan yang begitu krisis lebih baik
kalau mengikuti kebijakan yang lunak. Terhadap usul ini Khalifah Abu Bakar
menjawab dengan marah, “kalian begitu keras pada masa jahiliyah; tetapi
sekarang, setelah islam, kamu menjadi begitu lemah. Wahyu-wahyu Allah,
seandainya mereka menahan sehelai benang pun (dari zakat), saya akan
memerintahkan untuk memerangi mereka”.
Banayak calon baru
untuk kenabian yang, karena menganggap jabatan kenabian itu sesuatu yang sangat
menguntungkan, menyatakan diri sebagai nabi-nabi dan mulai menarik hati orang-orang
dengan membebaskan prinsip-prinsip moral dan upacara agama, seperti menyatakan
minum-minuman keras dan berjudi adalah halal, pelaksanaan
shalat mereka kurangi dari lima kali menjadi tiga kali, puasa ramadhan
dihapuskan sama sekali, pembatasan-pembatasan
dalam perkawinan ditiadakan, dan pembayaran zakat dijadikan sukrela.
Orang pertama yang
menganggap dirinya memegang peran kenabian muncul di Yaman. Dia adalah Aswad Ansi. Pada tahun
10 H dia menaklukkan Najran, merebut ibu kota Yaman, Sanda, dan menaklukkan
seluruh wilayah Yaman. Akan tetapi, dia dibunuh oleh Aswad meskipun api
pemberontakan tetap berkobar setelah kematian nabi palsu itu. Orang berikutnya
yang menganggap dirinya nabi adalah Musailamah si pembohong, yang terdorong
oleh keberhasilan Aswad Ansi, mengumumkan bahwa Nabi Muhammad telah
mengangkatnya sebagi mitra (partner) di dalam kenabian. Dia telah menghimpun
sejumlah suku Arab dan membuktikan bahwa dia merupakan musuh Islam yang paling
tangguh.
Penganggap ketiga
ialah Tulaiha yang disambut sebagai nabi Bani Ghatafan. Sajah, seorang
perempuan, adalah orang keempat yang menuntut kenabian. Dia berasal dari suku
Bani Yarbu di Arabia Tengah. Nabi-nabi palsu itu mulai melancarkan serangan ke
kota Madinah ketika Abu Bakar sedang bersiap-siap untuk mengirimkan. Usamah ke
perbatasan Siria.
Khalid bin Walid dikirim
untuk melawan Tulaiha, Ikrimah dan Sharabil bin Hasan dikirim untuk melawan Musailamah; dan
Zubair dikirim untuk memerangi Aswad Ansi di Yaman tanpa banyak kesulitan
Khalid bin Walid berhasil mengalahkan Tulaiha yang kemudian sekali lagi
menerima islam. Aswad Ansi mati sebelum Zubair sampai ke sana. Kematian Aswad
memudahkan tugas Zubair, dan seluruh wilayah sekali lagi dikuasai Islam tanpa
pertempuran yang berarti.
Perlawanan yang
paling kuat diberikan oleh Musailamah yang dengan mengawini Sajah, seorang nabi
Kristen, telah menyusun kekuatan dengan 4.000 tentara. Kedua orang jenderal,
Ikrimah dan Sharabil, dikalahkan oleh Musailamah. Gawatnya situasi itu
mendorong Khalifah untuk segera mengirimkan Khalid bin Walid. “Sang Pedang
Allah” tidak menganggap tugas itu ringan. Ketika Khalid bin Walid sampai di
Yamamah, Musailamah menyambutnya, dan kedua pasukan itu bertempur mati-matian.
Thabari menulis: “Belum pernah umat Islam bertempur begitu gigih”. Umat Islam
tidak mampu menahan tekanan pasukan musuh sehingga mereka mundur dan cerai
berai. Akan tetapi, umat Islam segera bangkit kembali dari kekalahan-kekalahan
awal itu, dan menyerang musuh dengan semangat baru dan tenaga baru. Mereka memukul
mundur musuh hingga ke Hidqa. Di sana
Musailamah harus berlindung di dalam sebuah kota taman yang berdinding tinggi.
Pasukan muslim mengepung dinding itu, tetapi mendapatkan gerbangnya tertutup.
Akan tetapi, Bara bin Malik meloncat dari atas dinding itu, dan tanpa
menghiraukan jiwanya, dia segera membuka gerbangnya. Segera setelah gerbang itu
terbuka, umat Islam melancarkan serangan beruntun kepada musuh. Musailamah
terbunuh di dalam pertempuran itu. Dan prajuritnya mulai melarikan diri ke
semua arah dengan kacau. Dengan demikian, pasukan islam memperoleh satu
kemenangan yang cemerlang. Thabari berkata bahwa lebih dari 10.000 orang murtad
terbunuh dalam pertempuran itu, dan karenanya taman itu menjadi dikenal sebagai
“Taman Maut”. Peperangan-peperangan lainnya dilakukan oleh berbagai jenderal
Muslim terhadap orang-orang murtad itu di Al-Bahrain, Oman, dan Yaman. Maka
berakhirlah seluruh gerakan kemurtadan, yang juga disebut Perang Riddah.
3. Wafatnya Abu Bakar
Abu Bakar jatuh sakit dalam musim panas tahun
634 M, dan selama 15 hari dia berbaring di tempat tidur. Khalifah ingin sekali
menyelesaikan masalah penggantian dan mencalonkan seorang
pengganti, kalau-kalau hal itu akan melibatkan rakyatnya ke dalam suatu perang
saudara. Meskipun dari pengalamannya Abu Bakar benar-benar yakin bahwa tidak
ada seorang pun kecuali Umar bin Khatab yang dapat mengambil tanggung jawab
kekhalifahan yang berat itu, karena masih ingin menggembleng pendapat umum, dia
bermusyawarah dengan para sahabat yang terpandang. Thabari menulis bahwa Abu
Bakar naik ke atas balkon rumahnya dan berbicara kepada orang banyak yang
berkerumunan di bawah: “Apakah kalian akan menerima orang yang saya calonkan
sebagai pengganti saya?” kata Khalifah. “saya bersumpah bahwa saya melakukan
yang terbaik dalam menetukan hal ini, dan saya telah memilih Umar bin Khattab
sebagai pengganti saya. Dengarkanlah saya, dan ikutilah keinginan-keinginan
saya.” Mereka semua berkata serempak, “kami telah mendengar anda dan kami akan
mentaati anda.”
Kemudian dia memanggil Usman dan mendiktekan teks perintah yang menunjukkan Umar sebagai
penggantinya. Dia meninggal dunia pada
hari senin tanggal 23 Agustus 634 M. Shalat jenazah dipimpin oleh Umar, dan dia
dikuburkan di rumah Aisyah di samping makam Nabi. Dia berusia 63 tahun ketika
meninggal dunia, dan kekhalifahannya berlangsung selama 2 tahun 3 bulan dan 11
hari. [3]
C. Masa Kekhalifahan Umar bin Khattab(13-25 H/634-644 M)
1. Bai’at Umar
Sebelum meninggal,
Abu Bakar telah menunjuk Umar bin Khattab sebagai penggantinya. Penunjukan Umar
oleh Abu Bakar memang merupakan sesuatu yang baru, tetapi harus dicatat bahwa
ia dilakukan dalam bentuk rekomendasi atau saran, yang diserahkan pada
persetujuan umat. Tidak ada ikatan sama sekali mengenai penunjukan itu dan umat
bisa saja menolaknya seandainya mereka ingin melakukanya.[4] Setelah Abu Bakar wafat, maka umat
Islam membai’at Umar sebagai penggantinya. Tidak ada perselisihan umat dalam
penunjukan Umar sebagai khalifah, karena memang Umar merupakan sosok yang
paling pantas menjadi pemimpin umat Islam sepeninggalan Abu Bakar.
2. Kebijakan Umar
a. Penaklukan Siria
Pengepungan Damaskus, salah satu pusat Siria
yang paling penting, sudah dimulai sejak zaman Abu Bakar, tetapi kota itu dapat
direbut dalam masa pemerintahan Umar. Khalid bin Walid mencurahkan perhatian
yang lebih dari biasa terhadap pengepungan kota itu. Beberapa orang perwira
yang gagah berani, menaiki benteng dan turun membuka pintu-pintu gerbang.
Pasukan islam telah siap. Begitu pintu-pintu gerbang terbuka, mereka menyerbu
laksana air bah dan membantai para penjaga. Kota itu dengan mudah ditaklukkan,
tetapi perampasan tidak diperbolehkan.
Setelah penaklukkan
Damaskus, umat islam mengalihkan perhatiannya ke arah Yordania, tempat bangsa
Romawi mulai menghimpun kekuatan yang dikirim oleh Heraklius untuk membebaskan
Damaskus. Demikianlah suatau kesatuan tentara berkekuatan kira-kira 40.000
dibentuk, dipimpin oleh Siklar, seorang jenderal Romawi. Suatu pertempuran
sengit berkobar di Fihil, sebuah kota di sebelah timur Yordania. Bangsa Romawi
kalah dan melarikan diri dengan kacau-balau.
Setelah jatuhnya Damaskus
dan Yordania, tinggal tiga kota penting lainnya akan ditaklukkan, yang berarti
penaklukkan seluruh Siria. Ketiga kota ini ialah Yerusalem, Hims (Amasi), dan
Antiokia umat islam memutuskan untuk menundukkan Hims lebih dahulu. Bangsa
Romawi berusaha untuk menahan kemajuan kaum muslimin di dekat Hims. Namun, pada
serbuan pertama Khalid, mereka dihancurleburkan; Khalid dan Abu meminta damai.
Setelah menderita bencana
di Damaskus, Hims, dan tempat-tempat lainnya, orang-orang Romawi melarikan diri
ke Antioka, tempat Heraclius mendirikan istananya. Suatu pertempuran yang hebat
dan menentukan terjadi pada tanggal 20 agustus 636 M.[5]
Pasukan Bizantium yang terdiri atas berbagai bangsa runtuh seperti rumah kartu
menghadapi tentara muslim yang bertekad bulat.
b. Pemberhentian Khalid bin Walid
Pada tahap ini khalifah Umar bin Khatab
mengangkat Abu Ubaidah sebagai panglima tertinggi dan memberhentikan Khalid bin
Walid.
Demikian dia menulis
kepada semua gubernur provinsi untuk
memberitahukan kepada mereka bahwa dia tidak memecat khalid karena dia merasa
terganggu olehnya atau kerena dia menganggapnya bersalah melanggar kepercayaan,
tetapi karena dia melihat bahwa orang-orang makin lama makin terikat kepadanya,
dan karenanya dia menganggap tepat untuk memberhentikan Khalid sehingga
orang-orang akan menyadari bahwa segala sesuatu ditentukan oleh Allah.
c. Penyerangan Yerusalem
Setelah perang Yamruk, Abu Ubaidah, panglima
tertinggi yang baru, bersama wakilnya, Khalid yang gemilang, berangkat dan
menyerang Yerusalem, kota suci orang kristen. Abu Ubaidah memimpin serangan
pada suatu sisi, dan Khalid menyerang dari sisi yang lain. Khalid memperoleh
kemenangan. Sementara itu, pendeta tinggi kristen menyerah kepada Abu Ubaidah.
d. Penaklukan Irak dan Persia
Sebagai hasil peperangan pertama antara orang-orang islam dan orang-orang
Persia di dalam pertempuran Hafir selama kekhalifahan Abu Bakar, Hira dan
kerajaan-kerajaan tetangga lainnya telah jatuh ke tangan kaum Muslimin. Khalid
akan menyempurnaka penaklukan Irak, tetapi masalah-masalah di Siria memaksa Abu
Bakar menegeluarkan perintah kepada Khalid untuk segera datang ke Siria. Ketika
berangkat ke Siria, khalid menyerahkan tanggung jawab atas front Irak ke
Mutsana, ketua suku Badui. Tidak adanya Khalid segera di manfaatkan oleh
orang-orang Persia yang dengan persiapan matang menyerbu pasukan Mutsana dan
hampir memusnahkan mereka di dalam pertempuran Jembatan pada tanggal 26
november 634 M. Ketika jumlah korban dihitung, diketahuilah bahwa dari pasukan
yang terdiri atas 9.000 orang, hanya 3.000 orang yang masih hidup.
e. Pertempuran Qadisia
Pertempuran Qadisia merupakan suatu
pertempuran yang sangat seru yang berlangsung tidak lebih dari tiga hari.
Rustam, yang memimpin pasukan Persia, mempunyai pasukan yang terdiri atas
60.000 orang. Sedangkan Saad hanya dapat mengarahkan 30.000 tentara.
f. Jatuhnya Madain
Setelah jatuhnya Madain (Ctesiphon), orang-orang Persia mulai membuat
persiapan-persiapan untuk berperang di Jalula dan menghimpun suatu pasukan yang
besar. Kharzad, saudara Rustam, yang menjadi panglima tertinggi, memperlihatkan
keterampilan yang besar dalam melaksanakan persiapan-persiapan ini.
g. Penaklukan Mesir
Amar bin Ash terutama bertanggung jawab atas penaklukan
Mesir. Sebelum menjadi pengikut islam Amar telah berulang kali melakukan
ekspedisi dagang ke Mesir, dan dia mengetahui benar jalan-jalan ke sana. Ketika
Umar sedang melakukan perjalanan ke Yerusalem, Amar melayaninya dan
menceritakan tentang Mesir kepadanya. Mula-mula Khalifah Umar merasa enggan
karena pertimbangan kebijaksanaannya, tetapi gambaran-gambaran Amar yang
diulang-ulangnya membuat dia memberi izin untuk penyerbuan ke Mesir, dan 4.000
tentara diserahkan kepada Amar.
3. Wafatnya Khalifah Umar
Wafatnya Umar sangat tragis. Suatu hari seorang budak
bangsa Persia yang bernama Feroz datang kepada Umar dengan pengaduan bahwa
majikannya telah membebankan atasnya pajak yang sangat berat. Umar berjanji
untuk memeriksa masalah itu. Hari berikutnya, ketika orang-orang berkumpul di
masjid Madinah untuk shalat, Feroz menyelinap masuk dan berkumpul dengan
mereka. Baru saja Umar mulai melakukan shalat,
Feroz tiba-tiba menyerang dari belakang dan menusuk Umar. Umar meninggal
dunia tiga hari kemudian dan di makamkan pada hari sabtu tanggal 1 muharram
tahun 23 H atau 644 M. Kekhalifahannya berlangsung selama 10 tahun 6 bulan dan
4 hari. [6]
D. Masa
Kekhalifahan Utsman bin Affan(24-36 H/644-656 M)
1. Bai’at Utsman
Di tempat tidurnya, Umar mengangkat suatu
dewan yang terdiri atas Usman, Ali, Thalhah, Zubair, Abdurrahman bin Auf, dan
Said bin Waqas untuk memilih seorang khalifah di antara mereka sendiri apabila
Khalifah Umar meninggal. Thalhah sedang tidak berada di Madinah. Oleh karena
itu, kelima calon ini harus memilih seorang pengganti khalifah yang meninggal
itu. Tugas itu benar-benar sulit karena nama Ali dan Usman harus di perhatikan.
Namun, pada waktu pemilihan dilakukan, Ali memilih Usman dan sebaliknya Usman
memilih Ali. Sa’ad memilih anak saudaranya, yaitu Usman. Tentang Abdurrahman
dan Zubair tidak diketahui siapa yang dipiliholeh mereka. Bagaimanapun, Usman
memperoleh mayoritas suara dan terpilih sebagai khalifah. Umat islam memberikan
sumpah setia kepadanya, dan dengan demikian menyetujui pemilihan itu. Orang
yang keenam dari badan pemilih itu, Thalhah, tiba di Madinah setelah pemilihan
itu berakhir. Dia juga memberikan sumpah setia kepada khalifah Usman.
2. Kebijakan Utsman
a. Perluasan Imperium
Khalifah Usman memerintah imperium Muslim
selama kira-kira 12 tahun. Selama kekhalifahannya, imperium Arab meluas di Asia
dan Afrika. Pada permulaan pemerintahannya terjadi sesuatu pemberontakan oleh
orang-orang Persia yang dihasut oleh Yazdagird. Khalifah memadamkan
pemberontakan itu, kemudian diikuti oleh pernyerbuan jenderal-jenderal Arab ke
Herat, Kabul, Ghazni, dan Asia Tengah. Wilayah-wilayah ini diserbu dan ketua
suku Afganistan, Balkh, Turketan, dan korasan dipaksa untuk mengakui kedaulatan
kekhalifahan dan harus membayar upeti kepada khalifah.
b. Pembangunan Angkatan Laut
Kekhalifahan Usman patut diingat karena
pembangunan angkatan laut Arabnya. Sebagai gubernur Siria, Muawiyah harus
menghadapi serangan-serangan angakat laut Romawi di daerah-daerah pesisir
provinsinya. Untuk memukul mundur penyerbuan-penyerbuan, dia merasakan perlunya
suatu angkatan laut. Oleh karena itu, dia membangun suatu angkatan laut, dan
dengan bantuannya dia berhasil melawan penyerbu-penyerbu Romawi.
c. Penaklukan Tripoli
Di Afrika, Abdullah menandingi
keagungan-keagungan pendahulunya, “penakluk Mesir”, dengan penaklukan koloni
Romawi di Tripoli. Dengan tujuan mengakhiri penyerbuan-penyerbuan dan
permusuhan-permusuhan Romawi, Abdullah menyerbu dengan pasukannya ke Tripoli.
Gubernur Romawi, Gregorius, memberi perlawanan dengan satu kesatuan yang
terdiri atas 12.000 orang Romawi. Orang-orang Arab mengalahkan mereka dengan
penjagalan yang mengerikan dan menduduki seluruh provinsi Romawi itu, yakni
Tripoli (652 M).
d. Penyusunan Kitab Al Qur’an dan Membuat Bendungan
Suatu karya Khalifah Usman yang penting ialah
penyusunan kitab Suci Al-Qur’an. Selama kekhalifahannya didapati bahwa terdapat
berbagai bacaan dan versi kitab suci al-Qur’an di berbagai wilayah imperium.
Usman memutuskan untuk untuk menghilangkan perbedaan dan menghimpun suatu dewan
yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit. Dewan ini menghimpunkan kitab suci yang
autentik, dan salinan yang terdapat pada Hafsah, salah seorang istri Nabi,
banyak memberikan pertolongan dalam penghimpunannya. Mereka membuat beberapa
salinan dari kitab suci yang sudah disusun itu. Salinan-salinan ini dikirimkan
ke berbagai wilayah imperium, dan sisanya dibakar sehingga keautentikan kitab
suci Al-Qur’an dapat dipelihara.
Khalifah Usman membangun
sebuah bendungan yang besar untuk melindungi Madinah terhadap bahaya banjir dan
mengatur persediaan air untuk kota itu. Dia membangun banyak jalan, jembatan,
mesjid, dan rumah tamu di berbagai wilayah imperium, dan memperluas Mesjid Nabi
di Madinah. [7]
3. Wafatnya Utsman
Utsman
mengangkat Abdullah bin Abi Sarah sebagai gubernur Mesir yang menjabat selama
dua tahun. Orang –orang Mesir datang megajukan persoalan-persoalan ynang mereka
hadapi dan mereka merasa dizalimi olehnya. Orang-orang mesir mengadukan tingkah
buruk yang dilakukan oleh Abdullah bin Abi Sarah. Utsman kemudian menulis surat
kepada Abdullah bin Abi Sarah dan memperingatknnya dengan peringatan yang
sangat keras. Namun, Abi Sarah tidak mau menerima peringatan Utsman. Dia bahkan
memkul orang Mesir yang diutus Utsman dan membunuhnya.[8]
Utsman
kenudian menulis keputusan dengan mengangkat Muhammad bin Abu Bakar sebagai
gubernur Mesir menggantikan Ibnu Abi Sarah. Muhammad bin Abu Bakar dan
orang-orangnya keluar menuju Mesir. Setelah tiga hari perjalanan dari Madinah,
tiba-tiba mereka dikejutkan oleh seorang pelayanan dengan kulit hitam legam
yang menunggang unta dan memukulnya dngan lecutan yang keras seakan-akan dia
dikejar seseorang atau dia sedang mengajar sesseorang. Belakangan diketahui
pelayan itu adalah pelayan Utsman. Pelayan itu membawa surat yang ditujukan
untuk Ibnu Abi Sarah yang menurut pengakuanya surat itu berasal dari khalifah
Utsman. Didalam surat itu tertulis:
“jika datang Muhammad bin Abu Bakar dan fulan,
juga fulan, bunuhlah mereka, dan batalkan isi surat yang dibawa. Tetaplah kamu
bertugas pada jabatanmu sekarang hingga datang perintahku. Penjarakan
orang-orang yang datang kepadaku yang mengatakan bahwaa dia dizalimi olehmu,
hingga aku perintahkan hal lain untukmu. Insya Allah,”. Selesai membaca
surat itu, mereka sangat kaget. Mereka bingung dan akhirnya kembali menuju
madinah. Mereka membacakan isi surat tersebut didepan para hadirin.
Isi surat itu menjadikan setiap penduduk
Madinah membenci Utsman bin Affan. Mereka mengepung rumah Utsman pada 35H. Kemudian
Ali datang menemui Utsman bersama dengan surat dan pelayanan laki-laki berkulit
hitam itu. Utsman bersumpah dengan nama Allah bahwa dia tidak pernah menulis surat
itu dan tidak pula pernah memerintahkan seorang untuk menulisnya.” Aku tidak
pernah memerintahkan pelayan ini pergi ke Mesir”. Mereka mengenal bahwa tulisan
yang ada disurat itu adalah tulisan Marwan. Mereka juga meragukan Utsman
melakukan hal itu. Lalu, mereka meminta Utsman untuk memyerahkan Marwan, namun
Utsman menolak. Saat itu, Marwan ada didalam rumah. Utsman tidak mau
menyerahkan Marwan untuk diperiksa. Dia khawatir Marwan akan dibunuh. Kabar
sampai kepada Ali bahwa orang-orang itu ingin membunuh Utsman. Dia berkata
“Sesungguhnya yang kami inginkan darinya adalah Marwan. Sementara itu,
pembunuhan Utsman sama sekali tidak kami inginkan. Kemusian Ali meminta Hasan
dan Husein untuk berjaga didepan pintu rumah Utsman. Zubair, Thalhah, dan beberapa sahabat Nabi
lain juga mengutus anak-anak mereka untuk mencegah orang-orang itu masuk
kedalam rumah Utsman dan meminta agar Marwan diserahkan kpeada mereka. Ketika
orang-orang itu melihat hal tersebut, mereka melempar pintu rumah Utsman dengan
anak panah hingga membuat Hasan bersimbah darah.
Peristiwa terlukanya Hasan dan Husain membuat
Muhammad bin Abu Bakar ketakutan akan munculnya kemarahan Bani Hasyim hingga
akan menimbulkan huru-hara besar. Maka dari itu, dia mengapit tangan dua orang
dan berkata ” jika Bani Hasyim datang dan melihat darah yang mengalir pada
wajah Hasan , mereka tidak akan memperhatikan lagi maslah Utsman daan gagalah
apa yang kita inginkan. Oleh karena itu, pergilah kalian berdua bersama kami
hingga kita memanjat pagar dan kita bunuh dia tanpa ada seorangpun yang tahu.
“Muhammad bin Abu Bakar bersama dua
orang temannya memanjat pagar rumah Utsman dari salah satu rumah orang Anshar
hingga Akhirnya mereka bisa masuk ruangan Utsman. Orang-orang tidak tahu siapa
yang ada bersama Utsman sebab para penghuni rumah berada di bagian atas rumah,
sementara yang ada bersamana Utsman hanyalah istrinya.
Muhammad
berkata kepada kedua orang temanya, “Tinggallah kalian ditempat sebab berada
bersama dengan istrinya. Aku yang akan masuk terlebih dahulu. Jika aku telah
masuk dan meringkusnya maka masuk terlebih dahulu. Jika aku telah masuk dan
meringkusnya maka masuklah kalian, lalu pukullah dia hingga mati.” Muhammad bin
Abu Bakarpun masuk, lalu dia memegang jenggot
Utsman, Utsman berkat,” Demi Allah, andaikan ayahmu melihat apa yang
kamu lakukan kepadaku, niscaya dia akan sangat tidak senang dengan sikapmu
kepadaku ini”.
Mendegar ucapan ini,Muhammad bin Abu Bakar
Menarik tanganya, setelah itu, masuklah dua orang tadi dan memukul Utsman
hingga mati. Mereka melarikan diri melaalui tempat mereka masuk. Istri Utsman
berteriak histeris, namun teriakanya tidak terdengar karena didalam
rumahnyaterjadi kegaduhan. Istri Utsman naik keatas rumah menemui orang-orang
yang ada disana. Dia berkata, “Amirul Mukminin telah dibunuh”.
Orang-orang
yang ada ditempat itu segera masuk. Ternyata mereka mendapatkan Utsman
disembelih. Kemudian, Ali mendatangi istri Utsman untuk menanyakan siapa
pembunuhnya. Istri Utsman berkata, “Aku
tidak tahu. Ada dua orang yang masuk yang tidak aku ketahui siapa dia. Bersama dua
orang itu adalah Muhammad bin Abu Bakar .”
Dia
mengabarkan kepada Ali perbuatan Muhammad bin Abu Bakar. Kemudian, Ali
memanggil Muhammad dan menanyakan kepadanya tentang yang diceritakan oleh istri
Utsman. Muhammad bin Abu Bakar berkata, “Dia tidak bohong. demi Allah, aku
masuk kedalam kamarnya dan aku bermaksud untuk membunuhya. Namun, dia
mengigatkanku akan ayahku. Maka dari itu,aku berdiri dan bertobat kepada Allah.
Demi Allah, aku tidak membunuhya dan tidak pula menyentuhnya.” Istri Utsman
berkata,” dia benar, namun dialah yang memasukan dua orang itu ke dalam rumah.” [9].
E. Masa
Kekhalifahan Ali bin Abi Thalib(36-40 H/656-670 M)
1. Bai’at Ali
Ketika
Utsman bin Affan terbunuh masyarakat berlarian menuju Ali bin Abi Thalib lalu
berebutan membai’atnya, sehingga ia berkata: “Tidak ada hak atas itu, karena
hak tersebut adalah hak para pejuang yang terlibat dalam perang Badar.
Dimanakah Thalhah, Az-Zubair, dan Sa’d? Kemudian mereka datang dan
membai’atnya. Selanjutnya kaum muhajirin dan kaum anshar membai’atnya pula.
Sesudah itu masyarakat luas mengikutinya. Peristiwa ini terjadi pada hari
jum’at, 13 dzulhijjah 35 H. Tercatat bahwa Thalhah adalah orang pertama yang
membai’atnya.
2. Peristiwa yang Terjadi pada Masa
Ali
a. Perang Jamal
Ketika
kabar pembunuhan Usman sampai kepada Aisyah ra, ia mengajak orang-orang untuk
melakukan pembalasan terhadap pembunuh Usman, diantara saudara sahabat yang
bersama Aisyah adalah Thalhah dan Zubair. Kemudian mereka berangkat ke Basroh
untuk berperang. Ketika kabar tersebut sampai pada Khalifah Ali, khalifah
mempersiapkan tentara untuk menghadapi pasukan Aisyah.
Setelah
kedua pasukan bertemu, maka terjadilah perundingan damai antara keduanya.
Namun, para pembunuh Usman takut untuk dibunuh, maka merka merusak perjanjian.
Maka berlangsung lah pertempuran antara pasukan Aisyah dan Ali. Dan kemenangan
ada di pihak Ali. Dalam pertempuran tersebut, sahabat Thalhah dan Zubair
terbunuh.
Perang
ini dinamakan nama Jamal (unta) karena pada saat itu Saidah Aisyah mengendarai
unta. Setelah perang usai, Khalifah Ali memerintahkan Muhammad bin Abu bakar
untuk membawa Aisyah kembali ke Madinah.
b. Perang Siffin
Perang
ini terjadi antara pasukan Muawwiyah dan Ali bin Abi Thalib, karena Muawwiyah
menyatakan dirinya sebagai Khalifah. di mulai pada awal bulan safar tahun 37 H.
Pada hari ke 8 bulan safar, bertemu dua pasukan dan berlansunglah peperangan
selama 3 hari yang diakhiri dengan kekalahan Muawwiyah. Kemudian Amar bin Ash
(pemimpin pasukan Muawwiyah) mengangkat Mushhaf Al-Qur’an di atas tombak
sebagai isyarat Tahkim (perdamaian dengan Al-Qur’an). Ali mengetahui isyarat
tersebut hanyalah tipu daya untuk menghentikan peperangan. Dalam menghadapi
situasi ini, tentara di pihak terbagi menjadi 2 kelompok. kelompok pertama,
setuju dengan pendapat Ali untuk meneruskan peperangan, dan kelompok kedua
menuntut untuk melaksanakn tahkim. karena jumlah kelompok kedua lebih banyak,
maka Sayyidina Ali mengikuti pendapat yang kedua. Yaitu mengadakan tahkim.
- Proses Terjadinya Peristiwa Tahkim
Untuk
melakukan tahkim penduduk Syam memilih Amar bin Ash, dan penduduk Irak memilih
Abu Musa al-Asyari untuk memutuskan hukum antara Ali dan Muawwiyah.Maka
berkumpullah kedua orang tersebut pada bulan ramadhan tahun 37 H dan sebuah
tempat yang bernama Daumatul Jandal. Dari pertemuan tersebut, disepakati
keputusan untuk memecat Ali dan Muawwiyah, kemudian pemilihan khalifah
diserahkan kepada keputusan masyarakat.
Setelah
itu, Abu Musa al-Asyari mengumumkan hasil kesepakatan tersebut kepada
golongannya yaitu pengikut Ali bin Abi Thalib. Adapun Amar bin Ash ia melakukan
kecurangan dengan mengumumkan keputusan ke para pengikutnya (pengikut
Muawwiyah) bahwa hasil keputusan memecat Ali dan menetapkan Muawwiyah sebagai
khalifah. Karena kecurangan itu, maka para pengikut Muawwiyah membai’at nya
sebagai khalifah.
c. Perang Nahrawan
Perang ini terjadi antara pasukan Khawarij dan
pasukan Ali bin Abi Thalib. Khawarij adalah orang-orang yang keluar dari
pasukan Ali pada perang Siffin karena khalifah Ali menyetujui tahkim. Sebanyak
12.000 pasukan Khawarij berkumpul di Nahrawan, merka membunuh anak-anak dan
para wanita. Maka Khalifah Ali mendatangi mereka dan menasehati mereka, namun
mereka enggan. Maka terjadilah peperangan antara keduanya yang berakhir dengan
kemenangan di pihak Ali.[10]
3. Wafat Ali
Ketika
Ali sedang dihadapkan kepada berbagai problema yang ditimbulkan oleh para
sahabat yang mendurhakai, di lain pihak Muawiyah bin Abu Sufyan berhasil
menduduki Mesir melalui ‘Amr bin Al’Ash. Kemudian ternyata Muawiyah tidak hanya
menduduki Mesir, melainkan ia juga memproklamirkan diri sebagai khalifah. Ali
menyadari bahaya yang ditimbulkan karenanya, sehingga ia pun segera menghimpun
tentara sebanyak empat puluh ribu guna menyerang Muawiyah. Tetapi saat pasukan
tentara akan segera bergerak, Abdurrahman bin Muljam al-Khariji berhasil
menikam Ali dengan pedang beracun pada sehingga ia wafat pada tanggal 17
Ramadhan 40 H.
Peristiwa
terbunuhnya Ali ini adalah suatu tindakan kriminal terencana yang disepakati
oleh tiga orang dari kalangan kaum khawarij. Mereka telah sepakat untuk
membunuh Ali, Muawiyyah, dan Amr bin Al-Ash dalam satu hari yang sama agar umat
Islam terhindar dari perang yang memperebutkan kursi khalifah. Namun, hanya
Ibnu Muljamlah yang berhasil. Ia berhasil membunuh Ali bin Abi Thalib RA,
sedangkan kedua temanya gagal membunuh Muawiyah dan Amr bin al-Ash. Dengan
wafatnya khalifah Ali, maka berakhirlah masa Khulafaur-Rasyidin.[11]
F. Berakhirnya
Masa Khulafaur Rasyidin
Setelah
wafatnya sayyidina Ali bin Abi Thalib, kaum muslimin mengangkat Hasan menjadi
Khalifah. namun, sayyidina Hasan tidak ingin lagi terjadi pertumpahan darah
antara kaum muslimin, maka ia menyerahkan jabatannya kepada Muawwiyah dengan
syarat-syarat sebagai berikut :
1). Muawwiyah tidak boleh mencaci
maki kepada Ali bin Abi Thalib dan keluarga Ali bin Abi thalib.
2). Apabila habis masa jabatan
Muawwiyah, jabatan tidak boleh diturunkan kepada anak dan keluarganya, jbatan
harus diserahkan kepada keputusan kaum muslimin.
Peristiwa
ini terjadi pada tahun 41 H, tahun ini disebut dengan Amul jama’ah (tahun
persatuan). Namun Muawwiyah mengingkari janjinya, ia menyerahkan jabatan kepada
anaknya Yazid. Maka dengan ini berakhirlah corak kepemimpinan Khulafaurrasyidin
yang demokratis menjadi sistem kerajaan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Masa khulafaur Rasyidin dimulai dengan kepemimpinan Abu Bakar yang
proses pengangkatan Abu Bakar merupakan inisiatif dari umar yang kemudian
disetujui kaum muslimin, dilanjutkan dengan kepemimpinan Umar yang pengangkatanya
merupakan wasiat Abu Bakar yang telah di sepakati umat, kemudian pengangkatan
Utsman atas formatur Umar, dan diakhiri dengan kepemimpinan Ali yang di bai’at
oleh Ahlu madinah.
Peristiwa penting
yang terjadi pada masa khulafaur Rasyidin adalah adanya tindakan pembersihan
perang Ridah, nabi-nabi palsu dan kaum murtad, ditaklukannya Persia, perang
shiffin, Tahkim, penaklukan Damaskus, Suriah, Mesir, Irak, Afrika Sifrus,
Armenia, Kabul, Farghanah,dll. Kontribusi mengumpulkan Alquran,penahanan administrasi
Negara,penanggalan islam dari awal hijrah Nabi, penyusunan al-Qur’an Mushaf Utsmani, dan perluasan
masjid Nabawi.
B. Saran
Demikian makalah kami tentang sejarah islam masa khulafaur
Rasyidin, kami mengharap kritik dan saran dari pembaca apabila terdapat
kekeliruan dan kekurangan.
DAFTAR PUSTAKA
Abu Bakar, Istianah, 2008. Sejarah Peradaban Islam. Malang: UIN Malang
Hasan, Hasan Ibrahim, 2006. Sejarah dan Kebudayaan Islam 1.
Jakarta: Kalam Mulia
Imam As-Suyuthi, 2010. Tarikh Al-Khulafa. Jakarta: Mizan Publika
Mahmudunnasir, Syed, 1988. Islam Konsepsi dan Sejarahnya. Bandung: Remaja
Rosdakarya
Shabran, 1933. Sejarah Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada
[2]
Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah dan
Kebudayaan Islam 1, (Jakarta: Kalam Mulia, 2006) hal. 396
[4]
Shabran, Sejarah Islam,(Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1993) hal.41
[6] Syed
Mahmudunnasir, Islam konsepsi dan sejarahnya, (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 1988) hal 150-158
[8]
Imam As-Suyuth,i Tarikh Al-Khulafa,(Jakarta, Hikmah/ PT Mizan Publika,
2010) hal. 181-183
[9]
Imam As-Suyuthi, Tarikh Al-Khulafa,(Jakarta, Hikmah/ PT Mizan Publika,
2010) hal 159
[10]
Umar Abdul Jabbar, Khulashoh Nurul Yaqin jilid III, (Surabaya: Maktabah
Hikmah, 2010) Hlm. 53
[11]
Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah dan
Kebudayaan Islam 1, (Jakarta: Kalam Mulia, 2006) hal. 519