Kamis, 20 Juni 2024

Ayah

Abah, sebulan yang lalu menyahut marah padamu. Beberapa kali dan hari ini merengut padamu. Tolong maafkanlah anakmu yang sulit mengendalikan emosi ini. Selalu merasa benar sendiri tatkala marah, akhirnya menyesal sendiri.

Kini anakmu yang kalem dan manis telah berubah menjadi singa gurun sahara selepas dari genggamanmu menuju kehidupan baru. Kehidupan mampu merubah sifat seseorang, termasuk anakmu.

Engkau yang kini renta, penyakit kulit pun telah menyerang tubuhmu. Dikala malam kudengar suara berat nafasmu tatkala tidur. Betapa hancur hatiku. Ditambah seringkali aku bermuka masam dan melukaimu. Abah maafkanlah anakmu.

Semakin dewasa semakin bisa menilai sifatmu, baik ataupun buruknya. Namun engkau tetaplah ayahku bagaimanapun keadaanya. Terimakasih atas segala perjuangan menghidupiku. Terimakasih telah menjadi sosok seorang ayah yang baik, sehingga aku tidak pernah mencari perhatian laki-laki lain seumur hidupku, karena sosokmu telah cukup untukku.

Pun tidak kupungkiri, segala amarah dan pukulanmu yang menghiasi masa kecilku takkan pernah hilang dari ingatan. Namun sungguh aku telah memaafkanmu. Dan mencoba mengerti bahwa kaupun hanyalah manusia biasa.

Abah, sekali lagi maafkanlah belum bisa membahagiakanmu. Doakanlah semoga Allah memudahkan rezeki anak-anakmu agar bisa membuatmu beristirahat dimasa tuamu. Duduk manis dengan mama menikmati masa tua tanpa lelah bekerja. 

19062024, 22:52 wita

Kamis, 04 April 2024

My First Daughter

5 April 2024, 01.21 wita

Aku tak kuat lagi membendung air mataku dan menangis dihadapanya, dihadapan anak pertamaku. Dilihatnya aku menangis dan berkata "mama jangan menangis".

Sungguh hatiku hancur sekali dengan keadaan saat ini. Aku baru saja melahirkan anak keduaku, berkutak dengan dua anak tanpa kehadiran suami setiap malam membuatku lelah dan stress, ditambah ASI yang tak kunjung deras untuk mencukupi kebutuhan anak keduaku sehingga dia seringkali gusar dan menangis membuatku kelelahan.
Dan pula anak pertamaku yang masih belum mengerti banyak hal layaknya orang dewasa. Namun seringkali aku memarahinya, ketika dia bersikap tak sesuai inginku, atau mengganggu adiknya, atau menunjukkan perlawananya. 

Dan itulah sebabnya air mataku.
Kulihat dia, si anak pertamaku, yang selama masa pengasuhanya tak pernah menyusahkanku, rebahan sendirian di kasur menjelang tidur malamnya.
Seketika terbayang masa-masa saat dia menjadi satu-satunya, aku selalu menemaninya tidur berdua. Namun kali ini dia tersisih, aku terus saja tidur disamping adiknya beberapa malam ini, dikarenakan, ya tentu saja aku harus menyusui anak keduaku setiap malamnya. Pun ditambah aku sering memarahinya akhir-akhir ini, maka mengucur deraslah air mataku bagai hujan.
Aku sungguh terluka karena telah melukainya.
Aku mencintainya sepenuh hatiku, tak pernah kurang.
Namun keadaan benar-benar membuatku kacau. 

Semoga esok lebih baik ya Nak.
Mama akan berusaha menjadi mama yang baik untukmu dan adikmu.
Mama tak ingin kamu merasa bahwa cinta mama telah berkurang.
Mama tidak sudi melukai hatimu.





29 Februari 2024

Aku terbangun dari mimpi.
Aku bermimpi sedang berada di tepian sungai, diatas sebuah lanting bersama ayahku, anakku, dan aku lupa entah siapa.

Kulihat ke arah hilir, langit begitu mencekam berwarna merah dan kehitaman, namun seketika berubah cerah kembali.
Kulihat kapal-kapal agak besar berlalu lalang, indah sekali menyejukkan mataku.

Tiba-tiba aku disadarkan bahwa keberadaanku disitu adalah perpisahan terakhir dengan anakku Atqiyaa. Dimana dikehidupan nyata, 3 hari ini semasa proses lepas popok yang belum berhasil juga, aku selalu memarahinya dengan amat sangat, dan ada perasaanku ingin sekali lepas darinya walau sehari. Lanjut kemimpi, ayahku sudah mempersiapkan perahu kecil yang akan dimasukan anakku di dalamnya. Yang akan membawanya untuk berpisah selamanya denganku entah bagaimana caranya. Perasaanku awalnya biasa saja, karena proses ini adalah kewajiban yang harus aku lewati, sepertinya itu kewajiban kepada Tuhan.
Ku minta anakku yang berdiri disampingku untuk duduk di pangkuanku, kupandang wajahnya, senyumnya, ikat rambutnya. Oh inilah kali terakhirku bersamanya, batinku. Kupeluk dia, betapa sayangnya aku. Seketika rasanya tak sanggup aku untuk melepasnya, walau keadaanku sedang hamil dan akan ada penggantinya, sungguh aku tak ingin berpisah darinya setelah pelukan dan rangkulan itu. Ditambah lagi, hari-hari terakhirnya penuh dengan amarahku. Pikirku, aku tak ingin berpisah dalam keadaan dimana kutinggalkan kenangan-kenangan pahit memarahi dan membentaknya. Maksudku, aku tak ingin hidup dalam penyesalanku mengingat hari bersamanya yang tak mampu aku membahagiakanya.

Kemudian aku berpikir untuk lari saja. Aku ingin membawanya kembali ke darat. Meski ritual ini akan harus terjadi besok atau lusa, meski dosa pasti akan kudapat, oh Tuhan aku rasanya tak sanggup. Aku ingin terus bersamanya.
______
Dan tiba-tiba aku terbangun.
Kudatangi anakku yang tidur dengan ayahnya. Dia memilih tidur disana akibat kumarahi sebelumnya. Aku sedih sekali rasanya. Akan kuperbaiki hari esok, anakku. Aku mencintaimu.
Rabu, 14 Februari 2024

Anak pertamaku.
Nak, apakah engkau merasa mama telah banyak berubah semenjak mengandung adikmu?
Rasanya sudah lama kita tidak jalan-jalan bersama dipagi hari.
Rasanya sudah lama mama tak tidur berdekapan denganmu.
Rasanya sudah lama mama tak meluangkan waktu bermain denganmu.
Rasanya sudah jarang mama mencium pipimu dan menggendongmu.
Rasanya sudah jarang mama membuatkan camilan kesukaanmu.
Rasanya mamapun sering sekali marah-marah padamu.

Padahal dulu mama berjanji tidak akan berubah.
Nak, maafkan mamamu ini.
Malam ini engkau sakit, panas dan cacar.
Mama tetap memarahimu saat engkau menangis kejar, padahal kau cuma ingin pelukan.
Anakku sayangku cintaku..
Semoga esok lebih gembira.
Mama ingin mempersembahkan hari esok dan seterusnya untukmu.
Besok kita main, besok kita jalan-jalan.
Besok kita habiskan waktu bersama.
Mama janji.