Menghitung
Hari
10
Juli terasa masih lama, mampukah diri ini bertahan. Untuk tak menunggu lebih
lama.
10
Juli mengingatkanku pada kejadikan 4 tahun silam.
Mengapa
aku memilih pergi, mengapa aku mulai melihatnya, mengapa aku terus membacanya,
dan mengapa sejak saat itu hingga hari ini aku melakukan semuanya.
Sejak
saat itu, semuanya berubah. Hari-hari berlalu terasa begitu berat. Tanpa
kusadari,semuanya sia-sia.
Hari
terus berganti, semuanya gelap dan menjadi saksi. Terkecuali hari-hari dimana
aku berada di sebuah desa nan jauh itu, selama 2 bulan. Didesa itu, aku mampu
membuat hari-harinya menjadi terang, namun ketika aku pulang.. semua kembali
sama.
Dan..
40 hari adalah waktu yang lama. Andai sebelum genap hitungan itu aku menemui
Dia, apa yang harus kukatakan? Pembelaan apa yang mampu kuutarakan? Jurang
gelap seperti apa yang akan kumasuki? Kemarahan yang seperti apa yang harus aku
hadapi?
Andai
aku ditanya kemana nikmat yang selama ini dikaruniakanNya kugunakan. Andai aku
ditanya tentang kemana waktu yang selama ini diberikanNya kuhabiskan. Andai aku
ditanya tentang bekal apa yang sudah kupersiapkan. Andai aku ditanya tentang
rasa malu yang menghilang saat aku dihadapanNya. Jawaban apa yang akan
kuberikan?
40
hari, bukanlah waktu yang singkat. Semua bisa saja terjadi.
Dan
malam ini telah berlalu 17 Ramadhan. Jika saja Ramadhan usai, apakah aku
termasuk orang yang menang? Ramadhan yang setahun sekali ini, mengapa tak
kumanfaatkan dengan sebaik-baiknya? Ini adalah kesempatan untuk kembali
kepadaNya. Bukankah menemui Ramadhan adalah keberuntungan yang besar? Wahai diriku,
janganlah engkau sia-siakan.
Aamiin.