CANDU
Sajak
dosa yang tak ubahnya seperti rindu
Tak
terbenduug.....
Siang
yang lenggang. Udara panas seakan membius semua orang untuk tertidur. Minimal
malas membuat mereka keluar rumah. Tapi tidak dengan Rio. Ini adalah kesempatan
untuknya. Sudah tujuh buah warung Rio datangi. Seolah membandingkan harga, dia
membeli barang yang sama disetiap warung yang telah dan akan didatanginya.
Incaran Rio adalah sejenis obat batuk, bentuknya bulat, kuning, bertuliskan SF,
atau lebih sering disebut dengan dextro. Ya, untuk menutupi kecurigaan
orang-orang, dia membeli dalam jumlah sedikit di tiap warungnya. Dan kini, ia telah mendapatkan obat tersebut
berjumlah duapuluh keping.
Selesai
“berbelanja”, Rio segera pulang kerumah dan mengunci rapat pintu kamarnya. Ritualpun
dilakukanya. Ya, dan kini pikiranya melayang bagai awan. Nikmat. Hilang semua
beban.
***
Adzan
magrib. Lantunan puisi-puisi senja.
Rio
berangkat kemesjid dan sholat berjamaah. Hati tak semudah melangkah. Langkah
kaki yang ringan, namun menyimpan rasa malu dan takut. Tak mudah bagi Rio
menghadapkan hatinya kepada sang pencipta. Sholat? Bertemu langsung? Berbicara
kepadaNya?. Bagaimana mungkin ia menghadapNya dengan keadaan dosa seperti ini.
Dia malu. Malu kepada yang Maha
Mengetahui. Namun dia harus, sholat adalah kewajiban. Tak mudah bagi seorang
pendosa untuk menghadap langsung kepada tuhanya. Terlebih, baru tadi siang Rio
bermaksiat kepadaNya, “ Ya Rabbi, ampuni dosa hamba. Beri hamba kekuatan untuk
melawan maksiat ini”, pinta Rio disetiap doanya.
***
Candu. Tak ubahnya bagai rindu.
Datang kapan saja, menjadi sengsara jika menahanya.
Beban
batin yang tersimpan rapat dihati Rio, bermula sekitar tiga tahun yang lalu.
Ketika itu Rio kelas tiga SMP. Ia coba-coba ikut teman-temanya mabuk-mabukan dengan
obat tersebut. Bagai terikat tali yang panjang, sekali mencoba, kamu takan
lepas, kamu akan terus ketagihan. Beginilah candu.
Takdir
menggiring bagai angin. Lulus SMP Rio melanjutkan belajar kesebuah pondok
pesantren. Dari sana, akhirnya hari-hari Rio menjadi penuh makna. Jalan-jalan
suci bagai datang dari segala arah. Gemblengan dari para ustadz di pesantren
membuatnya mantap untuk taat dan mencintai Allah.
Namun,
ada satu goresan tragis yang belum dia kalahkan. Ialah candu. Kecanduanya pada
obat-obatan tak mampu dilawanya dengan mudah. Semakin ia berusaha untuk lepas,
maka semakin kuat hasratnya untuk kembali meneenggak obat-obatan. Rio telah
mencoba sekuat tenaga. Dia ingin sempurna dalam taat. Ia terus berjuang, Namun
terus pula gagal. Saat maksiat menjadi candu, sulit untuk kembali.
***
Daaaaar. Petir menggelegar. Seolah-olah
menyambar sesuatu dengan sangat murka. Benar saja, seorang pemuda didesa Rio
tersambar petir dan mati mengenaskan. Usut punya usut, ternyata pria ini mati
dalam keadaan sedang mabuk. Rio ikut mensholatkan dan menghadiri pemakamanya.
Namun pemandangan seketika menjadi menakutkan. Dimata Rio, menakutkan hanya
untuk Rio. Ya, hanya Rio yang melihat pemandangan ini.
Sebuah
pohon tua, dekat pria itu dimakamkan. Disana terlihat ratusan makhluk-makhluk
aneh yang menyeramkan. Ada yang wajahnya menyerupai anjing, hitam legam dan
bermata merah. Ada yang wajahnya dipenuhi dengan nanah dan ulat, dan ada yang
wajahnya membusuk terkoyak. Mereka semua tertawa. Bertepuk tangan. Seolah telah
mendapat kemenangan besar. Tangan-tangan hitam mereka memegang botol-botol
minuman keras. Mereka bersulang. Tertawa, terbahak, dan bersorak-sorak.
Pemandangan
yang mengerikan untuk Rio. Mereka inikah yang menjadi teman bagi seorang
pecandu?, Rio membatin.
Satu
persatu pelayat meninggalkan makam, pun satu persatu makhluk mengerikan
tersebut lenyap dari pandangan. Rio segera berbalik arah untuk pulang. “Itukah
keadaan orang yang mati ketika bermaksiat?, saudara setan dan iblis dineraka.
Menjadi kayu bakar api neraka bersama mereka” bisik Rio menanyakan nuraninya.
Seketika air mata Rio tumpah, sebuah kekuatan, petunjuk, dan jawaban atas semua
doa-doanya.
Sejak hari itu, Rio berhenti dari
“ritual”nya. Kini dimata Rio, candunya telah menjelma menjadi wajah-wajah
menyeramkan yang ia lihat kala itu, dimakam itu.
***
Petunjuk gak akan kita dapat jika murni dengan usaha yang kita
miliki. Kita harus selalu berdoa dan memohon kepadaNya untuk mendapatkanya.
Allah memberikan petunjuk kepada hamba yang dikehendakiNya semata-mata karena
Rahmat dan KaruniaNya.