Jumat, 24 April 2015

CANDu



CANDU

Sajak dosa yang tak ubahnya seperti rindu
Tak terbenduug.....

            Siang yang lenggang. Udara panas seakan membius semua orang untuk tertidur. Minimal malas membuat mereka keluar rumah. Tapi tidak dengan Rio. Ini adalah kesempatan untuknya. Sudah tujuh buah warung Rio datangi. Seolah membandingkan harga, dia membeli barang yang sama disetiap warung yang telah dan akan didatanginya. Incaran Rio adalah sejenis obat batuk, bentuknya bulat, kuning, bertuliskan SF, atau lebih sering disebut dengan dextro. Ya, untuk menutupi kecurigaan orang-orang, dia membeli dalam jumlah sedikit di tiap warungnya.  Dan kini, ia telah mendapatkan obat tersebut berjumlah duapuluh keping.
            Selesai “berbelanja”, Rio segera pulang kerumah dan mengunci rapat pintu kamarnya. Ritualpun dilakukanya. Ya, dan kini pikiranya melayang bagai awan. Nikmat. Hilang semua beban.

***
Adzan magrib. Lantunan puisi-puisi senja.
            Rio berangkat kemesjid dan sholat berjamaah. Hati tak semudah melangkah. Langkah kaki yang ringan, namun menyimpan rasa malu dan takut. Tak mudah bagi Rio menghadapkan hatinya kepada sang pencipta. Sholat? Bertemu langsung? Berbicara kepadaNya?. Bagaimana mungkin ia menghadapNya dengan keadaan dosa seperti ini.
            Dia malu. Malu kepada yang Maha Mengetahui. Namun dia harus, sholat adalah kewajiban. Tak mudah bagi seorang pendosa untuk menghadap langsung kepada tuhanya. Terlebih, baru tadi siang Rio bermaksiat kepadaNya, “ Ya Rabbi, ampuni dosa hamba. Beri hamba kekuatan untuk melawan maksiat ini”, pinta Rio disetiap doanya.
***
Candu. Tak ubahnya bagai rindu. Datang kapan saja, menjadi sengsara jika menahanya.
            Beban batin yang tersimpan rapat dihati Rio, bermula sekitar tiga tahun yang lalu. Ketika itu Rio kelas tiga SMP. Ia coba-coba ikut teman-temanya mabuk-mabukan dengan obat tersebut. Bagai terikat tali yang panjang, sekali mencoba, kamu takan lepas, kamu akan terus ketagihan. Beginilah candu.
            Takdir menggiring bagai angin. Lulus SMP Rio melanjutkan belajar kesebuah pondok pesantren. Dari sana, akhirnya hari-hari Rio menjadi penuh makna. Jalan-jalan suci bagai datang dari segala arah. Gemblengan dari para ustadz di pesantren membuatnya mantap untuk taat dan mencintai Allah.
            Namun, ada satu goresan tragis yang belum dia kalahkan. Ialah candu. Kecanduanya pada obat-obatan tak mampu dilawanya dengan mudah. Semakin ia berusaha untuk lepas, maka semakin kuat hasratnya untuk kembali meneenggak obat-obatan. Rio telah mencoba sekuat tenaga. Dia ingin sempurna dalam taat. Ia terus berjuang, Namun terus pula gagal. Saat maksiat menjadi candu, sulit untuk kembali.
***
             Daaaaar. Petir menggelegar. Seolah-olah menyambar sesuatu dengan sangat murka. Benar saja, seorang pemuda didesa Rio tersambar petir dan mati mengenaskan. Usut punya usut, ternyata pria ini mati dalam keadaan sedang mabuk. Rio ikut mensholatkan dan menghadiri pemakamanya. Namun pemandangan seketika menjadi menakutkan. Dimata Rio, menakutkan hanya untuk Rio. Ya, hanya Rio yang melihat pemandangan ini.
            Sebuah pohon tua, dekat pria itu dimakamkan. Disana terlihat ratusan makhluk-makhluk aneh yang menyeramkan. Ada yang wajahnya menyerupai anjing, hitam legam dan bermata merah. Ada yang wajahnya dipenuhi dengan nanah dan ulat, dan ada yang wajahnya membusuk terkoyak. Mereka semua tertawa. Bertepuk tangan. Seolah telah mendapat kemenangan besar. Tangan-tangan hitam mereka memegang botol-botol minuman keras. Mereka bersulang. Tertawa, terbahak, dan bersorak-sorak.
            Pemandangan yang mengerikan untuk Rio. Mereka inikah yang menjadi teman bagi seorang pecandu?, Rio membatin.
            Satu persatu pelayat meninggalkan makam, pun satu persatu makhluk mengerikan tersebut lenyap dari pandangan. Rio segera berbalik arah untuk pulang. “Itukah keadaan orang yang mati ketika bermaksiat?, saudara setan dan iblis dineraka. Menjadi kayu bakar api neraka bersama mereka” bisik Rio menanyakan nuraninya. Seketika air mata Rio tumpah, sebuah kekuatan, petunjuk, dan jawaban atas semua doa-doanya.
            Sejak hari itu, Rio berhenti dari “ritual”nya. Kini dimata Rio, candunya telah menjelma menjadi wajah-wajah menyeramkan yang ia lihat kala itu, dimakam itu.
***
Petunjuk gak akan kita dapat jika murni dengan usaha yang kita miliki. Kita harus selalu berdoa dan memohon kepadaNya untuk mendapatkanya. Allah memberikan petunjuk kepada hamba yang dikehendakiNya semata-mata karena Rahmat dan KaruniaNya.

Kisah klasik hari ini



Jum’at, 24 April 2015_20:24

Hari yang melelahkan, dan hati yang lelah. Hari ini Aau membelikan buah naga horeeeeeeeeeeeeeeee. Hari ini Leha dan Upay jalan-jalan ke kos aku,haha katanya kuangeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen bingits sama aku. Tapi hari ini pun membuatku sedih.... Hari ini ka Fetem ke IAIN, tapi aku gak bias nyamperin, Maaf ya kaka... Hari ini acil Jamil marah sama aku. Entahlah.. Aku becandanya kelewatan? Mungkin. Aku pura-pura marah sama acil dan gak ngegubris semua sapaan-sapaan dia ke aku. eh ternyata beliau balik marah dan ngambek dan yaaa begitulah. Yaa udah aku ngalah, aku minta maaf sama beliau, tapi ternyata dan ternyata beliau gak mau maafin aku.. Yaa udaaahlah moga Allah maafin aku, aku udah minta maaf berkali-kali tapiiiii “nihil”. Aku pengen banget sebenarnya jahat dan marah juga sama dia, tapiiiiiiiiiiiiiii pesan ayah itu loh yang mbuat aku KO. Ayah berkata: “Sejahat apapun orang sama kita, kita harus tetap baik. Suatu saat dia akan sadar, InsyaAllah”. Nooooo kata-kata itu sangat membekas buat aku. Dilontarkan ayah ditengah-tengah ceritanya saat aku pulkam dulu. Ayah I miss u. Mama I love u. Tapi ayah, sebenarnya aku udah sering melanggar nasehat ini. Dan aku pura-pura marah tadi sebenarnya efek dari kekecewaan aku dan lupa dengan nasehat ayah. Aku ingin buka hatinya sedikit aja supaya dia merasakan sedikit kekecewaan aku,yaaaah ternyata responya tidak sesuai dengan yang aku harapkan. Dan by the way soal harapan yang diharapkan, itu kan ada sangkut pautnya tuh ama takdir. Noooooh aku jadi ingan bapa Muhammad Iqbal dosen filsafat umumku. Aku fens bingitssssssssssssss ama beliau.
Tentang bapa Iqbal
Pertama kenal or pertama beliau ngajar aku melihat kedisiplinan beliau dan kehebatan, kecerdasan, dan keberanian beliau. Hari pertama masuk mata kuliah beliau, kami tersesat karena gak tau local kuliyah, dan beliau dengan setianya menunggu diruang kelas selama satu setengah jam menunggu kedatangan kami, hehe........ Lalu beliau memperkenalkan diri. Dari serita beliau, kami sangat takjub. Why? Because hampir setiap tahun beliau pindah-pindah sekolah dari SD hingga SMA. Lalu saat beliau kuliyah, aku lupa nama kampusnya kalau gak UIN Malang berarti UIN lain dipulau jawa.hehe Ceritanya kan saat kuliyah beliau mengambil jurusan filsafat umum, dan seperti kita ketahui mata kuliah agama dan umum biasanya adalah mata kuliah tambahan yang wajib untuk mahasiswa. Iyakaaaaaaaaaaaaaan? Tapiiiiiiiii bapa Iqbal merasa gak perlu itu semua. Toh beliau niatnya belajar filsafat bukan mata kuliyah lain. Jadinya ya semua mata kuliah yang gak berhubungan ama duni kefilsafatan tidak beliau ikuti, dan hasilnya jreng.. jreng tentu saya enggak lulus. Dan itu berjalan hampir bertahun-tahun. Dan kemudian ada bisihan hati dari ayah beliau yang mempertanyakan berapa tahun lagi beliau akan lulus serta akhirnya beliau menyadari bahwa beliau enggak bias melawan sistem dan peraturan kampus, makaaaaaaaaaaaa beliau taubat dan akhirnya lilus.
Naaaaaaaaah berangkat dari cerita tersebut, kemudian kami memberi beliau gelar kehormatan dengan sebutan “bapa stand of comedy” hehehehehehehe.
{tangan mulai keriting, perut mulai lpar, aku makan dulu yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa}

wahai Allah...



Rabu, 22 april 2015_18:18 Wita

Wahai Allah..
Diantara semua kebenaran ini, diantara semua orang yang mengaku dia adalah golongan yang paling benar, Beri kami petunjuk wahai Allah, kejalanMu yang lurus..
Karena kebenaran yang hakiki hanya padaMu, karna petunjuk hanya dariMu
Wahai Allah,
Bimbinglah kami kejalan RasulMu,al-Musthofa Muhammad Saw.
Bimbinglah kami menjadi golongan yang terpilih, yang disebut-sebut sebagai ahlussunnah wal jama”ah
Wahai Allah..
Diantara semua golongan yang menganggap dirinya adalah paling benar
Jadikan kami orang yang menapaki jalan kebenaran yang Engkau Ridhoi
Sayangi kami ya Allah
***
Pernah seorang teman bertanya, “Diah kamu muhammadiyah apa NU?”, aku jawab gak dua-duanya. Dengan lantang aku menjawab “aku ahlussunnah wal jama”ah” hehe maaf. Jawaban itu adalah sebuah kekhilafan. Bagaimana mungkin aku dengan PDnya mengaku aswaja, sementara hati, sikaf, dan tindakan masih jauh dari kata sholihah. Yaaah.. jawaban spontan. Karena untuk memilih diantara dua jawaban diatas, aku merasa gak pernah ambil bagian dari keduanya. Seharusnya aku menjawab “Aku aswaja, amiin dan insyaAllah”.
NU?, aku gak pernah merasa masuk kedalam organisasi tersebut. Muhammadiyah?, banyak ilmu yang diajarkan ustadz-ustadzah aku bertentangan sama mereka. Lalu aku masuk mana????
Aku tumbuh dilingkungan pesantren salafiah, aku diajarkan mencintai para habib dan kekasih-kekasih Allah. Aku diberi kesempatan dipertemukan dengan para wali dan kekasihnya. Aku mereguk ilmu dan berkah dari para ustadz dan ustadzah yang sholih dan sholihah, yang wajah-wajah mereka memancarkan nur.. Nur dari Allah Swt.
Jadi kesimpulanya, aku sedang meniti jalan para sholafussholih, aswaja InsyaAllah. Semoga kita semua menjadi hambaNya yang aswaja.Amiin.

munasabah



Rabu,23 april 2015_03:39 wita
Dear sepertigamalam terakhir..
Ada kata yang ingin kutuliskan malam ini, ada cerita yang ingin kubagi. Bukan, bukan tentang cinta yang selalu membisikiku untuk berkata padanya cintai aku lagi. Bukan, bukan tentang seorang teman yang sekarang sedang qiyamul lail disampingku. Bukan, bukan semua itu.
Hari berlalu begitu saja, berisi canda tawa, letih, sakit.. Ada beban yang selalu disandarkan dipundaku ini setiap harinya. Bukan, bukan beban hidupku sendiri, tapi beben yang bagai angin menyapaku,datang dan pergi begitu saja, dan terus begitu.
Aku bingung memulai dari mana, ini bukan kisah menarik untuk dibaca, tapi entah mengapa hati ini ingin menulisnya. Hari ini aku bertemu banyak manusia, namun ada empat manusia yang membuat hati ini....
Satu, paman tukang roti. Tanpa gerobak maupun sepeda. Hari demi hari beliau lalui dengan menjajakan roti-rotinya setiap pagi, berlanjut siang.. Dengan berjalan kaki, langkah tuanya telah melipat ratusan kilometer bumi. Dengan kedua tanganya yang keriput, ia selalu kuat mengangkat wadah-wadah rotinya yang besar, berat, yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi.
Miris. Inilah kehidupan. Roti? Setiap jam enam pagi beliau duduk di teras asrama-asrama mahasiswa, sambil berteriak “roti,roti”. Dan setiap adegan ini terlihat oleh kedua mataku, selalu.. beliau sendirian, tak ada pembeli. Dan setiap itu pula, aku menyempatkan menengok kotak-kotak roti beliau, penuh. Masih penuh..
Cerita ini belum berakhir. Berlanjut bukan lagi diasrama mahasiswa, tetapi di rumah yang kini sedang kutempati. Sekitar jam setengah Sembilan pagi, sayup-sayup namun setiap hari paman roti kembali menjajakan rotinya dengan teriakan “roti,roti”, dan kejadianpun terulang, dari sekian hari yang kulalui sepanjang mengikuti lirih suara-suara itu, sepanjang perjalananku mengamati gontai langkah-langkah itu, kedua mataku ini baru sekali melihat pembeli, pembeli yang membeli roti beliau.
Bagiku, melihat beliau adalah cerita pahit. Setiap kali berpapasan dengan beliau, candatawaku selalu pudar. Aku memilih diam. menyiksa diri dengan membayangkan beban hidup dan susahnya kehidupan ini untuk beliau. Pernah suatu hari aku melihat beliau duduk dengan wadah-wadah rotinya diparkiran kampus, dengan roti-roti yang masih penuh di wadahnya, dan yang lebih membuatku sakit adalah.. ini bukan lagi pagi hari, tapi saat matahri telah rindu menuju peraduanya dibarat sana,. yupz, it is life..
Lalu bagaimana dengan aku? aku bukanlah orang baik kawan. Mengapa aku tidak membeli roti-roti beliau?, yaa itulah aku, dengan sejuta alas an yang bertumpu pada satu hal.. hemat uang karna hidup diperantauan. Pernah sih aku beli roti beliau sekali dua kali, itupun dengan proses berfikir yang panjang dan sebuah bisikan “belilah dagangan mereka karena mereka menghindarkan diri dari meminta-minta”.
Dan hari ini kawan, aku kembali bertemu dengan paman tukang roti, tebak jam berapa kawan? Jam 05.00 saat aku pulang dari kuliah. Dengan suara familiarnya, beliau menjajakan roti. Lalu dengan proses berfikir panjang, aku berniat mantap untuk membeli. Namun saat kutengok kembali tempat dimana aku melihat beliau, beliau sudah gak ada. Hilang, tanpa suara. Dan yaaa ini salahku, terlalu banyak mikir. Terlalu setia mendengarkan bisikan-bisikan syetan yang menghalangi hati ini untuk berbagi, yang menghalangi tangan ini untuk memberi.
Pada pengajian subuh bulan Ramadhan, habib Umar bin Hafizh membacakan ayat yang berbunyi:
الشيطان يعدكم الفقر و يعمركم بالفحشاء واْ الله يعدكم مغفرة منه و فضلا و الله واسع عليم
“ Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir), Sedangkan Allah menjanjikan untukmu ampunanNya dan karunia, Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.” ( al-Baqarah:268).
Begitulah kawan, aku masihlah orang awam yang cinta dunia. Padahal aku telah mendengar ayat ini berulang kali, namun untuk memberi aku masih saja harus selalu berfikir panjang. Dan untuk kita semua semoga dengan rahmat dan petunjukNya kita menjadi orang yang dapat mengamalkan ayat ini, mengamalkan al-Qur’an, mentaati Allah dan RasulNya,Amiin. Semoga kita terpelihara dari sifat kikir dan sifat-sifat tercela lainnya, Amiin allahumma amiin.
***
Gema-gema tahrim dilangitNya, pertanda tulisan ini harus dicukupkan sampai disini. Mungkin hanya sempat menulis cerita pertama, tapi tak apa, inipun adalah nikmat yang harus disyukuri. Semoga berkah!! Tulisan ini, dan hari ini....
Wassalam