Sabtu, 12 Maret 2016

13 Maret 2016

Malaikat, Maafkan aku lagi atas pemandangan yang tak menyenangkan pagi ini. Jangan menangis, aku mohon. Untuk apa seorang malaikat suci sepertimu menangis dihadapanku. Menangisi akukah yang telah meruntuhkan segenap perjuangan? Atau menangisi dia dan mereka yang mengelilingi hidupku dengan doa dan cinta?

Malaikat, aku tahu sebelum ini kau menjagaku dan berusaha menarikku kembali. Namun sayangnya, kali ini kau tak tersentuh untuk dapat melindungiku. Pintumu tanpa sengaja telah kututup, dan dengan sadar kubuka pintu-pintu yang lain.

Malaikat, tanyakan pada kekasihku apakah dia marah? Bodohnya aku bertanya seperti ini, tentu dia marah. Tapi masih adakah celah untuk menerimaku lagi seperti hari-hari sebelumya?

Malaikat, kamu pasti tahu. Tak pernah ada tujuan lain dihidupku selain untuk kekasihku. Namun kadang, orang-orang merayuku bertubi-tubi untuk sebentar berpaling dari kekasihku. Dan akhirnya aku terjatuh, lari, dan terlepas dari genggaman kekasihku.

Malaikat, aku tahu bahwa kekasihku pasti tahu betapa pilunya aku saat ini. Betapa aku selalu menyesali dan selalu ingin kembali pulang. Namun, aku ragu. Aku tahu kekasihku akan selalu menerima kepulanganku. Menyambutku dengan senyum dan cintanya. Namun aku takut setelah kepulangan ini aku akan lepas dan berlari lagi, aku takut. Aku tak pernah rela jika aku melukainya lagi. Jika aku pulang, aku ingin disana selamanya, tanpa pernah berlari lagi. Aku ingin disampingnya, aku ingin dipeluknya.

Kekasihku, Yang Maha