Jumat, 10 Desember 2021

Mama

Hai diriku.
Ibumu tetaplah ibumu.
Dia menyayangimu.
Meski semakin dewasa kamu mulai mampu menilai baik buruk sifat, sikaf, dan wataknya, dia tetaplah ibumu.

Ibumu memanglah manusia biasa, wajar jika Dia tidak sempurna. Apabila kadang melukaimu, kadang menyakitimu, kadang tidak mengerti keadaanmu. Maka terimalah kekurangannya, sebagaimana dia memaklumi semua kekuranganmu juga.

Ibumu tetaplah ibumu. Dia mengandungmu penuh suka cita, tak sabar bertemu sosokmu didunia nyata. Dia melahirkanmu dengan bertaruh nyawa. Dia merawatmu dengan payah. Kurang waktu tidurnya, lelah badannya, ditambah penuh sesak pikiranya dikarenakan beradaptasi menjadi seorang ibu.

"Teringat ketika ibu mengantarku kepondok, dia menangis. Sembari beranjak pergi, tak ingin menoleh kepadaku karena dia menangis. Momen itulah menggambarkan cintanya, meski tak pernah terucap, dia selalu membuktikanya lewan gerak-gerik. 

Dulu ketika hujan, ibu membawa dua payung berjalan kaki menjemputku, pun beberapa kali menitipkan payung kepada orang-orang agar mengantarkanya kepadaku disekolah. Ah, bukankah itu karena cinta?

Dulu ibuku setiap bulan selalu mengirimkan paket sembako ketika aku diperantauan. Menyempatkan diri mengunjungiku, disela-sela kesibukanya membeli barang. Walau satu jam saja duduk di rumah sewaanku, dia sempatkan naik ojek melewati panas terik kota Banjarmasin. 

Semua kebaikanya, janganlah kau lupakan hai diri. Tersenyumlah padanya setiap waktu, jangan membantahnya, dengarlah kata-katanya dengan penuh perhatian. Kau tak tahu betapa berat hari-harinya bukan? Ringankanlah bebannya dengan bersyukur memiliki anak sepertimu."

Tak pernah ibumu berharap, seorang anak yang susah payah dibesarkanya, setelah dewasa ternyata sosok itulah yang sangat melukainya.
Menyakiti hatinya yang dialah buah hatinya.
Membentaknya yang dulu dialah mengajari bicara.
Merengut padanya yang dulu penuh senyum memaklumi kesalahanya.

Ibu, maafkanlah.
Ibu, selagi masih ada waktu,
Semoga aku bisa memperbaiki diriku.

Bismillaah. Aamiin🤲


Nb: foto adalah kaktus dan daun kesayangan ibuku, serta sendal aku dan ibuku.

Selasa, 05 Oktober 2021

Suamiku Tercinta

Suamiku adalah seorang asing, masuk ke hidupku secara tiba-tiba. Setahun sudah bersama, aku mencintainya setiap detik dikehidupanku.

Suamiku hari ini, telah kehilangan banyak hal. Ayah dan ibunya telah pergi ke hadirat Allah yang Maha Kuasa. Satu-satunya saudara laki-lakinya telah berkeluarga dan punya kehidupanya sendiri. Yang suamiku punya hanyalah aku, dan anak kami.

Ketika aku marah padanya. Aku membuang muka, dan membiarkanya seorang diri. Tak terbayang betapa sakitnya dia. Betapa kalut hatinya. Betapa sepi dan sunyi hatinya. Karena yang dia punya hanyalah kami, jika kami pun menyakitinya, siapa lagi penghibur lara dan pencerah hari-harinya..

Hari ini suamiku berangkat ke kota untuk bekerja, kami menunggunya didesa. Setiap tiga hari ditempuhnya jarak yang jauh untuk menemui kami, keluarga tercintanya, satu-satunya. Tapi apa yang dia dapat? Kadang bukanlah hangat pelukan keluarga atau canda tawa. Melainkan muka masam seorang istri, keluh kesah  dan kata-kata kasar istrinya. Padahal belum habis juga lelah perjalananya, masalah di tempat kerjanya, dan lain-lain hal yang berkecamuk dihatinya. 

Suamiku.. Maafkanlah istrimu ini. Telah membuatku terluka, telah membuatmu menangis.

Suamiku.. Maafkanlah istrimu yang jauh dari kata sempurna ini. Selalu gagal membuatmu merasa nyaman.

Suamiku, istrimu ini akan terus belajar. Menjadi istri sholehah, perempuan beradab, dan penyejuk mata bagimu dan anak-anakmu.

Suamiku, maaf dan terimakasih.
Uhibbuk, jiddan❤
Ditempat ini, Rabu 06 Oktober 2021.
(Ditulis sambil meneteskan air mata karena merindu dan mencintaimu)

Jumat, 10 September 2021

Permintaan Duniawi

Assalamualaikum 2021

Tuhanku, sungguh rasanya malu sekali untuk meminta dunia kepadamu.
Tuhanku, hari ini dunia begitu mudahnya memasuki relung-relung hatiku, padahal ku selalu berharap didalamnya tidak ada selainMu.
Tuhanku, aku malu padaMu jika teringat hamba-hambaMu yang fokus saja beribadah kepadaMu lalu Kau berikan dunia dan isinya kepada mereka.

Tuhanku, aku sungguh malu meminta dunia kepadamu.
Namun saat ini dunia benar-benar menguasai hatiku.
Rasanya takkan terucap permintaan-permintaan duniaku, tatkala aku bermunajat padaMu.
Aku tak terbiasa, meminta tentang harta, kepadaMu. 

Ah, aku sungguh malu.
Karena itulah kutulis saja disini keinginan-keinginan itu.
Aku takkan berdoa, aku tak ingin ibadahku ada maksud lain selain RidhoMu.
Ibadahku? Engkau tahu wahai Tuhanku, akulah orang yang miskin beramal.
Berdoa? Biarkan sajalah..
Padahal doa adalah salah satu ikhtiar bukan? Namun harus bagaimana, aku sungguh malu.

Ingiku adalah:
"Kelancaran, kesuksesan, dan keberkahan bisnisku. Agar dapat kutolong kedua orangtuaku, beristirahat bekerja menikmati masa tua yang indah dan mengabulkan hajat-hajat mereka. Serta menolong semua keluarga besarku yang kekurangan. Juga menolong para umat Nabiku Saw. agar Nabiku tersenyum. Pun juga memfasilitasi anak-anakku dan anak-anak orang islam untuk sekolah agama agar mencintai dan dicintai oleh Nabiku Saw.. Dan terakhir, ada tiga tempat terjauh yang ingin aku kunjungi. Yaitu Makkah, Madinah, dan TariimMu dalam ibadah hajiku. Aamiin ya Allah."
September, 2021.

(Sebenarnya ada lagi, tapi malu. Tentang land, house, car, plantation, snack, shop, nest, and yellow rice☺)