Minggu, 31 Mei 2015

sejarah peradaban islam masa khulafaur Rasyidin





MAKALAH SEJARAH PERADABAN ISLAM
SEJARAH ISLAM MASA KHULAFAUR RASYIDIN

Dosen Pengampu :
Dr. M. Daud Yahya, M.Ag


Disusun oleh kelompok 3:
Hilmiyati                     1401240738
Hushdiah                     1401240739
Jamilah                        1401240742

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI BANJARMASIN
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
2015





KATA PENGANTAR

        Segala puji bagi Allah yang telah memudahkan segala hal untuk penyusunan makalah ini. Sholawat serta salam tak lupa kita hanturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW.
            Sejarah Peradaban Islam adalah mata kuliah wajib pada kampus-kampus Islam di Indonesia. Bidang studi ini menjadi sangat penting, karena kita tidak mungkin dapat mengenal Islam secara sempurna tanpa mengenal sejarah peradabanya.
            Mempelajari sejarah peradaban Islam, berarti telah menyeret kita untuk masuk ke zaman kejayaan dan kesedihan di masa lalu. Mempelajari sejarah peradaban Islam akan membuat kita bangga, menangis, mencintai, berjuang, dan mempertahankan agama ini dengan sepenuh hati.





DAFTAR ISI

Kata Pengantar ........................................................................................................  i
Daftar Isi .................................................................................................................   ii
BAB I PENDAHULUAN
            A. Latar Belakang .......................................................................................   1
            B. Rumusan Masalah...................................................................................   1
            C. Tujuan Penulisan ....................................................................................  2
BAB II PEMBAHASAN
            A. Selayang Pandang ..............................................................................,...   3
            A. Abu Bakar as-Shiddiq ...........................................................................    4
            B. Umar bin Khattab....................................................................................  8
            C. Utsman bin Affan....................................................................................  11
            D. Ali bin Abi Thalib...................................................................................  16
BAB III PENUTUP
            A. Kesimpulan.............................................................................................   20
            B. Saran........................................................................................................  20
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................   21




BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
            Setelah Rasulullah Saw. wafat, kepemimpinan digantikan oleh sahabat Abu Bakar as- Shiddiq. Kemudian berturut- turut digantikan oleh Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Kepemimpinan khalifah yang empat inilah disebut dengan Khulafaur-Rasyidin.
            Kepemimpinan Khulafaur-Rasyidin adalah satu-satunya sistem pemerintahan yang dibangun secara demokratis sesuai dengan pesan dan wasiat Rasulullah Saw. Dengan berakhirnya khulafaur-Rasyidin, berakhir pula sistem pemerintahan demokrasi yang kemudian digantikan dengan sistem pemerintahan yang berupa kerajaan.
            Pada masa pemerintahan Khulafaur-Rasyidin terdapat banyak peristiwa- peristiwa penting yang menjadi titik tolak sejarah pada masa-masa berikutnya. Untuk itu, sangat penting bagi kita untuk mempelajari lebih dalam tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa tersebut.
            Maka untuk keperluan diatas kami menyusun makalah ini, yang membahas tentang sejarah Islam dan peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pada masa Khulafaur-Rasyidin.


B. Rumusan Masalah
      1. Apa saja peristiwa penting yang terjadi pada masa kepemimpinan Abu Bakar As-Shiddiq?
2. Apa saja peristiwa penting yang terjadi pada masa kepemimpinan Umar bin Khattab?
3. Apa saja peristiwa penting yang terjadi pada masa kepemimpinan Utsman bin Affan?
            4. Apa saja peristiwa penting yang terjadi pada masa kepemimpinan Ali bin Abi Thalib?


C. Tujuan Penulisan
            Tujuan ditulisnya makalah ini adalah untuk memberikan informasi kepada pembaca tentang sejarah dan peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pada masa Khulafaur-Rasyidin.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Selayang Pandang
            Wafatnya Nabi Muhammad sebagai pemimpin agama maupun Negara menyisakan persoalan pelik. Nabi tidak meninggalkan wasiat kepada seorangpun sebagai penerusnya. Akibatnya, para sahabat mempermasalahkan dan saling  berusaha untuk mengajukan calon pilihan dari kelompoknya. Ahmad Amin mencatat sedikitnya ada tiga kelompok yang berkeinginan menjadi penerus nabi, yaitu:

a.  Golongan/ kelompokAhli Bait yang menjadi calonnya adalah Ali bin Thalib karena   yang paling  berhak adalah para ahli-ahli bait Rasulullah sendiri
b. Kelompok Anshar calonnya adalah Saad bin Ubadah karena golongan Anshar merupakan golongan penolong Nabi disaat Nabi teraniaya di makkah dan beliau pun meninggal dalam keadaan puas terhadap Anshar
c. Kaum muhajirin calonya adalah Abu Bakar as-Shidiq karena kaum Muhajirin merupakan kaum yang pertama mempercayai ajaran Nabi dan selalu menemani beliau dalam keadaan suka dan duka

            Perselisihan tersebut berdampak pada tertundanya pemakaman Rasulullah serta terjadinya peristiwa saqifah dimana Abu Bakar di baiat sebagai penerus Nabi. 

            Masa khulafaur Rasyidin merupakan masa keemasan, zaman ideal, dimana pemerintahan dijalankan seperti halnya pemerintahan masa Nabi. Indikator yang dapat dilihat adalah:

1. Pembentukannya dengan suara rakyat
2. Kepala negaranya merupakan pilihan rakyat
3. Pemerintahan dijalankan dengan Musyawarah
4. Kedaulatan Hukum Ilahi diaplikasikan dalam kehidupan bernegara, sehingga terdapat  keyakinan bahwa segala gerak-gerik dipertanggung jawabkan kepaada Allah
5. Kekuasaan Negara tidak didominasi oleh kelompok satu

            Selain mampu menciptakan tatanan pemerintahan ideal, masa khulafur rasyidin terkenal dengan kemampuannya mengalahkan dua imperium besar sebelumnya yaitu Persia dan Roma. [1]
            Masa Khulafaur Rasyidin dimulai dari pemerintahan Abu Bakar as-shiddiq dan berakhir pada masa pemerintahan Ali bin Abi thalib. Berakhirnya masa Khulafaur Rasyidin menandakan berakhir pula sistem pemerintahan Islam secara demokrasi, yang kemudian digantikan dengan sistem kerajaan pada masa Dinasti Bani Umayyah.
           

B. Masa Kekhalifahan Abu Bakar as-shiddiq RA(11-13H/632-634 M)
1. Bai’at Abu Bakar
            Rasulullah Saw. tidak meninggalkan wasiat tentang siapa yang akan menjadi pemimpin kaum muslimin sepeninggalanya. Maka setelah Rasulullah Saw. wafat, berkumpullah kaum Anshar dirumah bani Sa’adah di Madinah. Mereka berkumpul untuk membaai’at Sa’d bin Ubadah seorang Anshar pemimpin kaum Khazraj untuk menjadi khalifah.
            Kemudian datang sekelompok kaum Muhajirin menyatakan ketidaksetujuannya. Dalam pertemuan ini, hampir saja terjadi sengketa sengit diantara kelompok Anshar dan Muhajirin. Kemudian Abu Bakar bangkit mengemukakan pendapatnya, dan mencalonkan Umar dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah untuk menjadi khalifah.
            Maka bangkitlah Umar menuju Abu Bakar lalu membai’atnya sebagai Khalifah, seraya berkata kepadanya: “Bukankah nabi telah menyuruhmu wahai Abu Bakar, agar mengimami kaum muslimin dalam sholat? Engkau khalifah pengganti dan penerus beliau. Kami membai’atmu sehingga kami berarti membai’at sebaik-baik orang yang paling dicintai Rasulullah Saw. dari kami semua”. Maka secara berturut- turut kaum Muhajirin dan Anshar yang berada disana membai’at Abu Bakar. Kemudian keesokan harinya, duduklah Abu Bakar di mimbar masjid Nabawi dan secara umum kaum muslimin membai’atnya.[2]


2. Kebijakan Abu Bakar
a. Mengirim Usamah bin Zaid menaklukan perbatasan Syiria
             Setelah menjadi khalifah, yang pertama-tama menjadikan perhatian Abu Bakar adalah melaksanakan keinginan Nabi yang hampir tidak bisa terlaksana, yaitu mengirimkan suatu ekspedisi di bawah pimpinan Usamah ke perbatasan Syiria untuk membalas pembunuhan ayah Usamah, yaitu Zaid, dan kerugian yang diderita oleh umat islam di dalam perang Mut’ah. Akan tetapi keadaan di dalam negara islam saat itu memburuk. Kabar tentang wafatnya Nabi merupakan isyarat bagi beberapa suku Arab untuk melepaskan kesetiaan mereka dari Negara kota Madinah. Oleh kerena itu, anggota-anggota Majelis Syura berpendapat bahwa keberangkatan Usamah akan membuat kota itu kurang pertahanan, dan banyak yang setuju untuk menunda ekspedisi itu. Akan tetapi, Abu Bakar, orang yang bersikap keras, menolak usul mereka. Ekpedisi itu ada pengaruhnya. Keberanian Abu Bakar untuk melanjutkan pengiriman ekspedisi meyakinkan orang-orang Badui keadaan kekuatannya di dalam negeri.


b. Memerangi Kemurtadan dan Nabi- Nabi Palsu
            Keperibadian Nabi Muhammad yang dinamis menyebabkan seluruh bangsa Arab bersatu. Di samping itu, banyak suku Arab yang mengaggap bahwa persetujuan mereka dengan Nabi sebagai persetujuan pribadi yang berakhir dengan wafatnya Nabi. Segera  setelah kabar tentang wafatnya Nabi sampai ke luar negeri, unsur-unsur yang tidak mau menurut mulai bangkit. Sejumlah suku mulai melepaskan diri dari kekuasaan Madinah dan menolak memberikan penghormatan kepada khalifah yang baru, atau menolak perintahnya. Sebagian di antara mereka bahkan menolak Islam.
            Pembayaran zakat yang tidak terjangkau pemikiran bangsa Arab. Untuk pertama kali mereka diharuskan membayar zakat kepada pembendaharaan pusat di Madinah. Tentu saja ini berarti penurunan kekuasaan, dan hal itu tidak disukai oleh suku-suku itu. Keberatan mereka bukan terhadap Islam, melainkan terhadap zakat. Keadaannya menjadi sangat genting. Madinah sendiri terancam oleh gerombolan-gerombolan Badui yang dipelajari oleh suku Ghatafan yang kuat. Banyak sahabat, termasuk Umar, menganjurkan bahwa dalam keadaan-keadaan yang begitu krisis lebih baik kalau mengikuti kebijakan yang lunak. Terhadap usul ini Khalifah Abu Bakar menjawab dengan marah, “kalian begitu keras pada masa jahiliyah; tetapi sekarang, setelah islam, kamu menjadi begitu lemah. Wahyu-wahyu Allah, seandainya mereka menahan sehelai benang pun (dari zakat), saya akan memerintahkan untuk memerangi mereka”.
            Banayak calon baru untuk kenabian yang, karena menganggap jabatan kenabian itu sesuatu yang sangat menguntungkan, menyatakan diri sebagai nabi-nabi dan mulai menarik hati orang-orang dengan membebaskan prinsip-prinsip moral dan upacara agama, seperti menyatakan minum-minuman keras dan berjudi adalah halal, pelaksanaan shalat mereka kurangi dari lima kali menjadi tiga kali, puasa ramadhan dihapuskan sama sekali, pembatasan-pembatasan dalam perkawinan ditiadakan, dan pembayaran zakat dijadikan sukrela.  
            Orang pertama yang menganggap dirinya memegang peran kenabian muncul di Yaman. Dia adalah Aswad Ansi. Pada tahun 10 H dia menaklukkan Najran, merebut ibu kota Yaman, Sanda, dan menaklukkan seluruh wilayah Yaman. Akan tetapi, dia dibunuh oleh Aswad meskipun api pemberontakan tetap berkobar setelah kematian nabi palsu itu. Orang berikutnya yang menganggap dirinya nabi adalah Musailamah si pembohong, yang terdorong oleh keberhasilan Aswad Ansi, mengumumkan bahwa Nabi Muhammad telah mengangkatnya sebagi mitra (partner) di dalam kenabian. Dia telah menghimpun sejumlah suku Arab dan membuktikan bahwa dia merupakan musuh Islam yang paling tangguh.
            Penganggap ketiga ialah Tulaiha yang disambut sebagai nabi Bani Ghatafan. Sajah, seorang perempuan, adalah orang keempat yang menuntut kenabian. Dia berasal dari suku Bani Yarbu di Arabia Tengah. Nabi-nabi palsu itu mulai melancarkan serangan ke kota Madinah ketika Abu Bakar sedang bersiap-siap untuk mengirimkan. Usamah ke perbatasan Siria.
            Khalid bin Walid dikirim untuk melawan Tulaiha, Ikrimah dan Sharabil bin Hasan dikirim untuk melawan Musailamah; dan Zubair dikirim untuk memerangi Aswad Ansi di Yaman tanpa banyak kesulitan Khalid bin Walid berhasil mengalahkan Tulaiha yang kemudian sekali lagi menerima islam. Aswad Ansi mati sebelum Zubair sampai ke sana. Kematian Aswad memudahkan tugas Zubair, dan seluruh wilayah sekali lagi dikuasai Islam tanpa pertempuran yang berarti.
            Perlawanan yang paling kuat diberikan oleh Musailamah yang dengan mengawini Sajah, seorang nabi Kristen, telah menyusun kekuatan dengan 4.000 tentara. Kedua orang jenderal, Ikrimah dan Sharabil, dikalahkan oleh Musailamah. Gawatnya situasi itu mendorong Khalifah untuk segera mengirimkan Khalid bin Walid. “Sang Pedang Allah” tidak menganggap tugas itu ringan. Ketika Khalid bin Walid sampai di Yamamah, Musailamah menyambutnya, dan kedua pasukan itu bertempur mati-matian. Thabari menulis: “Belum pernah umat Islam bertempur begitu gigih”. Umat Islam tidak mampu menahan tekanan pasukan musuh sehingga mereka mundur dan cerai berai. Akan tetapi, umat Islam segera bangkit kembali dari kekalahan-kekalahan awal itu, dan menyerang musuh dengan semangat baru dan tenaga baru. Mereka memukul mundur musuh hingga ke Hidqa. Di sana Musailamah harus berlindung di dalam sebuah kota taman yang berdinding tinggi. Pasukan muslim mengepung dinding itu, tetapi mendapatkan gerbangnya tertutup. Akan tetapi, Bara bin Malik meloncat dari atas dinding itu, dan tanpa menghiraukan jiwanya, dia segera membuka gerbangnya. Segera setelah gerbang itu terbuka, umat Islam melancarkan serangan beruntun kepada musuh. Musailamah terbunuh di dalam pertempuran itu. Dan prajuritnya mulai melarikan diri ke semua arah dengan kacau. Dengan demikian, pasukan islam memperoleh satu kemenangan yang cemerlang. Thabari berkata bahwa lebih dari 10.000 orang murtad terbunuh dalam pertempuran itu, dan karenanya taman itu menjadi dikenal sebagai “Taman Maut”. Peperangan-peperangan lainnya dilakukan oleh berbagai jenderal Muslim terhadap orang-orang murtad itu di Al-Bahrain, Oman, dan Yaman. Maka berakhirlah seluruh gerakan kemurtadan, yang juga disebut Perang Riddah.

3. Wafatnya Abu Bakar
            Abu Bakar jatuh sakit dalam musim panas tahun 634 M, dan selama 15 hari dia berbaring di tempat tidur. Khalifah ingin sekali menyelesaikan masalah penggantian dan mencalonkan seorang pengganti, kalau-kalau hal itu akan melibatkan rakyatnya ke dalam suatu perang saudara. Meskipun dari pengalamannya Abu Bakar benar-benar yakin bahwa tidak ada seorang pun kecuali Umar bin Khatab yang dapat mengambil tanggung jawab kekhalifahan yang berat itu, karena masih ingin menggembleng pendapat umum, dia bermusyawarah dengan para sahabat yang terpandang. Thabari menulis bahwa Abu Bakar naik ke atas balkon rumahnya dan berbicara kepada orang banyak yang berkerumunan di bawah: “Apakah kalian akan menerima orang yang saya calonkan sebagai pengganti saya?” kata Khalifah. “saya bersumpah bahwa saya melakukan yang terbaik dalam menetukan hal ini, dan saya telah memilih Umar bin Khattab sebagai pengganti saya. Dengarkanlah saya, dan ikutilah keinginan-keinginan saya.” Mereka semua berkata serempak, “kami telah mendengar anda dan kami akan mentaati anda.”
            Kemudian dia memanggil Usman dan mendiktekan teks perintah yang menunjukkan Umar sebagai penggantinya. Dia meninggal dunia  pada hari senin tanggal 23 Agustus 634 M. Shalat jenazah dipimpin oleh Umar, dan dia dikuburkan di rumah Aisyah di samping makam Nabi. Dia berusia 63 tahun ketika meninggal dunia, dan kekhalifahannya berlangsung selama 2 tahun 3 bulan dan 11 hari. [3]

C. Masa Kekhalifahan Umar bin Khattab(13-25 H/634-644 M)

1. Bai’at Umar
            Sebelum meninggal, Abu Bakar telah menunjuk Umar bin Khattab sebagai penggantinya. Penunjukan Umar oleh Abu Bakar memang merupakan sesuatu yang baru, tetapi harus dicatat bahwa ia dilakukan dalam bentuk rekomendasi atau saran, yang diserahkan pada persetujuan umat. Tidak ada ikatan sama sekali mengenai penunjukan itu dan umat bisa saja menolaknya seandainya mereka  ingin melakukanya.[4]            Setelah Abu Bakar wafat, maka umat Islam membai’at Umar sebagai penggantinya. Tidak ada perselisihan umat dalam penunjukan Umar sebagai khalifah, karena memang Umar merupakan sosok yang paling pantas menjadi pemimpin umat Islam sepeninggalan Abu Bakar.

2. Kebijakan Umar
a. Penaklukan Siria
            Pengepungan Damaskus, salah satu pusat Siria yang paling penting, sudah dimulai sejak zaman Abu Bakar, tetapi kota itu dapat direbut dalam masa pemerintahan Umar. Khalid bin Walid mencurahkan perhatian yang lebih dari biasa terhadap pengepungan kota itu. Beberapa orang perwira yang gagah berani, menaiki benteng dan turun membuka pintu-pintu gerbang. Pasukan islam telah siap. Begitu pintu-pintu gerbang terbuka, mereka menyerbu laksana air bah dan membantai para penjaga. Kota itu dengan mudah ditaklukkan, tetapi perampasan tidak diperbolehkan.
            Setelah penaklukkan Damaskus, umat islam mengalihkan perhatiannya ke arah Yordania, tempat bangsa Romawi mulai menghimpun kekuatan yang dikirim oleh Heraklius untuk membebaskan Damaskus. Demikianlah suatau kesatuan tentara berkekuatan kira-kira 40.000 dibentuk, dipimpin oleh Siklar, seorang jenderal Romawi. Suatu pertempuran sengit berkobar di Fihil, sebuah kota di sebelah timur Yordania. Bangsa Romawi kalah dan melarikan diri dengan kacau-balau.
            Setelah jatuhnya Damaskus dan Yordania, tinggal tiga kota penting lainnya akan ditaklukkan, yang berarti penaklukkan seluruh Siria. Ketiga kota ini ialah Yerusalem, Hims (Amasi), dan Antiokia umat islam memutuskan untuk menundukkan Hims lebih dahulu. Bangsa Romawi berusaha untuk menahan kemajuan kaum muslimin di dekat Hims. Namun, pada serbuan pertama Khalid, mereka dihancurleburkan; Khalid dan Abu meminta damai.
            Setelah menderita bencana di Damaskus, Hims, dan tempat-tempat lainnya, orang-orang Romawi melarikan diri ke Antioka, tempat Heraclius mendirikan istananya. Suatu pertempuran yang hebat dan menentukan terjadi pada tanggal 20 agustus 636 M.[5] Pasukan Bizantium yang terdiri atas berbagai bangsa runtuh seperti rumah kartu menghadapi tentara muslim yang bertekad bulat.
b. Pemberhentian Khalid bin Walid
            Pada tahap ini khalifah Umar bin Khatab mengangkat Abu Ubaidah sebagai panglima tertinggi dan memberhentikan Khalid bin Walid.
            Demikian dia menulis kepada semua gubernur  provinsi untuk memberitahukan kepada mereka bahwa dia tidak memecat khalid karena dia merasa terganggu olehnya atau kerena dia menganggapnya bersalah melanggar kepercayaan, tetapi karena dia melihat bahwa orang-orang makin lama makin terikat kepadanya, dan karenanya dia menganggap tepat untuk memberhentikan Khalid sehingga orang-orang akan menyadari bahwa segala sesuatu ditentukan oleh Allah.
c. Penyerangan Yerusalem
            Setelah perang Yamruk, Abu Ubaidah, panglima tertinggi yang baru, bersama wakilnya, Khalid yang gemilang, berangkat dan menyerang Yerusalem, kota suci orang kristen. Abu Ubaidah memimpin serangan pada suatu sisi, dan Khalid menyerang dari sisi yang lain. Khalid memperoleh kemenangan. Sementara itu, pendeta tinggi kristen menyerah kepada Abu Ubaidah.
d. Penaklukan Irak dan Persia
Sebagai hasil peperangan pertama antara orang-orang islam dan orang-orang Persia di dalam pertempuran Hafir selama kekhalifahan Abu Bakar, Hira dan kerajaan-kerajaan tetangga lainnya telah jatuh ke tangan kaum Muslimin. Khalid akan menyempurnaka penaklukan Irak, tetapi masalah-masalah di Siria memaksa Abu Bakar menegeluarkan perintah kepada Khalid untuk segera datang ke Siria. Ketika berangkat ke Siria, khalid menyerahkan tanggung jawab atas front Irak ke Mutsana, ketua suku Badui. Tidak adanya Khalid segera di manfaatkan oleh orang-orang Persia yang dengan persiapan matang menyerbu pasukan Mutsana dan hampir memusnahkan mereka di dalam pertempuran Jembatan pada tanggal 26 november 634 M. Ketika jumlah korban dihitung, diketahuilah bahwa dari pasukan yang terdiri atas 9.000 orang, hanya 3.000 orang yang masih hidup.
e. Pertempuran Qadisia
Pertempuran Qadisia  merupakan suatu pertempuran yang sangat seru yang berlangsung tidak lebih dari tiga hari. Rustam, yang memimpin pasukan Persia, mempunyai pasukan yang terdiri atas 60.000 orang. Sedangkan Saad hanya dapat mengarahkan 30.000 tentara.
f. Jatuhnya Madain
Setelah jatuhnya Madain (Ctesiphon), orang-orang Persia mulai membuat persiapan-persiapan untuk berperang di Jalula dan menghimpun suatu pasukan yang besar. Kharzad, saudara Rustam, yang menjadi panglima tertinggi, memperlihatkan keterampilan yang besar dalam melaksanakan persiapan-persiapan ini.
g. Penaklukan Mesir
Amar bin Ash terutama bertanggung jawab atas penaklukan Mesir. Sebelum menjadi pengikut islam Amar telah berulang kali melakukan ekspedisi dagang ke Mesir, dan dia mengetahui benar jalan-jalan ke sana. Ketika Umar sedang melakukan perjalanan ke Yerusalem, Amar melayaninya dan menceritakan tentang Mesir kepadanya. Mula-mula Khalifah Umar merasa enggan karena pertimbangan kebijaksanaannya, tetapi gambaran-gambaran Amar yang diulang-ulangnya membuat dia memberi izin untuk penyerbuan ke Mesir, dan 4.000 tentara diserahkan kepada Amar.

3. Wafatnya Khalifah Umar
Wafatnya Umar sangat tragis. Suatu hari seorang budak bangsa Persia yang bernama Feroz datang kepada Umar dengan pengaduan bahwa majikannya telah membebankan atasnya pajak yang sangat berat. Umar berjanji untuk memeriksa masalah itu. Hari berikutnya, ketika orang-orang berkumpul di masjid Madinah untuk shalat, Feroz menyelinap masuk dan berkumpul dengan mereka. Baru saja Umar mulai melakukan shalat,  Feroz tiba-tiba menyerang dari belakang dan menusuk Umar. Umar meninggal dunia tiga hari kemudian dan di makamkan pada hari sabtu tanggal 1 muharram tahun 23 H atau 644 M. Kekhalifahannya berlangsung selama 10 tahun 6 bulan dan 4 hari. [6]

D. Masa Kekhalifahan Utsman bin Affan(24-36 H/644-656 M)
1. Bai’at Utsman
            Di tempat tidurnya, Umar mengangkat suatu dewan yang terdiri atas Usman, Ali, Thalhah, Zubair, Abdurrahman bin Auf, dan Said bin Waqas untuk memilih seorang khalifah di antara mereka sendiri apabila Khalifah Umar meninggal. Thalhah sedang tidak berada di Madinah. Oleh karena itu, kelima calon ini harus memilih seorang pengganti khalifah yang meninggal itu. Tugas itu benar-benar sulit karena nama Ali dan Usman harus di perhatikan. Namun, pada waktu pemilihan dilakukan, Ali memilih Usman dan sebaliknya Usman memilih Ali. Sa’ad memilih anak saudaranya, yaitu Usman. Tentang Abdurrahman dan Zubair tidak diketahui siapa yang dipiliholeh mereka. Bagaimanapun, Usman memperoleh mayoritas suara dan terpilih sebagai khalifah. Umat islam memberikan sumpah setia kepadanya, dan dengan demikian menyetujui pemilihan itu. Orang yang keenam dari badan pemilih itu, Thalhah, tiba di Madinah setelah pemilihan itu berakhir. Dia juga memberikan sumpah setia kepada khalifah Usman.

2. Kebijakan Utsman
a. Perluasan Imperium
            Khalifah Usman memerintah imperium Muslim selama kira-kira 12 tahun. Selama kekhalifahannya, imperium Arab meluas di Asia dan Afrika. Pada permulaan pemerintahannya terjadi sesuatu pemberontakan oleh orang-orang Persia yang dihasut oleh Yazdagird. Khalifah memadamkan pemberontakan itu, kemudian diikuti oleh pernyerbuan jenderal-jenderal Arab ke Herat, Kabul, Ghazni, dan Asia Tengah. Wilayah-wilayah ini diserbu dan ketua suku Afganistan, Balkh, Turketan, dan korasan dipaksa untuk mengakui kedaulatan kekhalifahan dan harus membayar upeti kepada khalifah.
b. Pembangunan Angkatan Laut
            Kekhalifahan Usman patut diingat karena pembangunan angkatan laut Arabnya. Sebagai gubernur Siria, Muawiyah harus menghadapi serangan-serangan angakat laut Romawi di daerah-daerah pesisir provinsinya. Untuk memukul mundur penyerbuan-penyerbuan, dia merasakan perlunya suatu angkatan laut. Oleh karena itu, dia membangun suatu angkatan laut, dan dengan bantuannya dia berhasil melawan penyerbu-penyerbu Romawi.
c. Penaklukan Tripoli
            Di Afrika, Abdullah menandingi keagungan-keagungan pendahulunya, “penakluk Mesir”, dengan penaklukan koloni Romawi di Tripoli. Dengan tujuan mengakhiri penyerbuan-penyerbuan dan permusuhan-permusuhan Romawi, Abdullah menyerbu dengan pasukannya ke Tripoli. Gubernur Romawi, Gregorius, memberi perlawanan dengan satu kesatuan yang terdiri atas 12.000 orang Romawi. Orang-orang Arab mengalahkan mereka dengan penjagalan yang mengerikan dan menduduki seluruh provinsi Romawi itu, yakni Tripoli (652 M).
d. Penyusunan Kitab Al Qur’an dan Membuat Bendungan
            Suatu karya Khalifah Usman yang penting ialah penyusunan kitab Suci Al-Qur’an. Selama kekhalifahannya didapati bahwa terdapat berbagai bacaan dan versi kitab suci al-Qur’an di berbagai wilayah imperium. Usman memutuskan untuk untuk menghilangkan perbedaan dan menghimpun suatu dewan yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit. Dewan ini menghimpunkan kitab suci yang autentik, dan salinan yang terdapat pada Hafsah, salah seorang istri Nabi, banyak memberikan pertolongan dalam penghimpunannya. Mereka membuat beberapa salinan dari kitab suci yang sudah disusun itu. Salinan-salinan ini dikirimkan ke berbagai wilayah imperium, dan sisanya dibakar sehingga keautentikan kitab suci Al-Qur’an dapat dipelihara.
            Khalifah Usman membangun sebuah bendungan yang besar untuk melindungi Madinah terhadap bahaya banjir dan mengatur persediaan air untuk kota itu. Dia membangun banyak jalan, jembatan, mesjid, dan rumah tamu di berbagai wilayah imperium, dan memperluas Mesjid Nabi di Madinah. [7]
3. Wafatnya Utsman
            Utsman mengangkat Abdullah bin Abi Sarah sebagai gubernur Mesir yang menjabat selama dua tahun. Orang –orang Mesir datang megajukan persoalan-persoalan ynang mereka hadapi dan mereka merasa dizalimi olehnya. Orang-orang mesir mengadukan tingkah buruk yang dilakukan oleh Abdullah bin Abi Sarah. Utsman kemudian menulis surat kepada Abdullah bin Abi Sarah dan memperingatknnya dengan peringatan yang sangat keras. Namun, Abi Sarah tidak mau menerima peringatan Utsman. Dia bahkan memkul orang Mesir yang diutus Utsman dan membunuhnya.[8]
            Utsman kenudian menulis keputusan dengan mengangkat Muhammad bin Abu Bakar sebagai gubernur Mesir menggantikan Ibnu Abi Sarah. Muhammad bin Abu Bakar dan orang-orangnya keluar menuju Mesir. Setelah tiga hari perjalanan dari Madinah, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh seorang pelayanan dengan kulit hitam legam yang menunggang unta dan memukulnya dngan lecutan yang keras seakan-akan dia dikejar seseorang atau dia sedang mengajar sesseorang. Belakangan diketahui pelayan itu adalah pelayan Utsman. Pelayan itu membawa surat yang ditujukan untuk Ibnu Abi Sarah yang menurut pengakuanya surat itu berasal dari khalifah Utsman. Didalam surat itu tertulis:
 “jika datang Muhammad bin Abu Bakar dan fulan, juga fulan, bunuhlah mereka, dan batalkan isi surat yang dibawa. Tetaplah kamu bertugas pada jabatanmu sekarang hingga datang perintahku. Penjarakan orang-orang yang datang kepadaku yang mengatakan bahwaa dia dizalimi olehmu, hingga aku perintahkan hal lain untukmu. Insya Allah,”. Selesai membaca surat itu, mereka sangat kaget. Mereka bingung dan akhirnya kembali menuju madinah. Mereka membacakan isi surat tersebut didepan para hadirin.
             Isi surat itu menjadikan setiap penduduk Madinah membenci Utsman bin Affan. Mereka mengepung rumah Utsman pada 35H. Kemudian Ali datang menemui Utsman bersama dengan surat dan pelayanan laki-laki berkulit hitam itu. Utsman bersumpah dengan nama Allah bahwa dia tidak pernah menulis surat itu dan tidak pula pernah memerintahkan seorang untuk menulisnya.” Aku tidak pernah memerintahkan pelayan ini pergi ke Mesir”. Mereka mengenal bahwa tulisan yang ada disurat itu adalah tulisan Marwan. Mereka juga meragukan Utsman melakukan hal itu. Lalu, mereka meminta Utsman untuk memyerahkan Marwan, namun Utsman menolak. Saat itu, Marwan ada didalam rumah. Utsman tidak mau menyerahkan Marwan untuk diperiksa. Dia khawatir Marwan akan dibunuh. Kabar sampai kepada Ali bahwa orang-orang itu ingin membunuh Utsman. Dia berkata “Sesungguhnya yang kami inginkan darinya adalah Marwan. Sementara itu, pembunuhan Utsman sama sekali tidak kami inginkan. Kemusian Ali meminta Hasan dan Husein untuk berjaga didepan pintu rumah Utsman.  Zubair, Thalhah, dan beberapa sahabat Nabi lain juga mengutus anak-anak mereka untuk mencegah orang-orang itu masuk kedalam rumah Utsman dan meminta agar Marwan diserahkan kpeada mereka. Ketika orang-orang itu melihat hal tersebut, mereka melempar pintu rumah Utsman dengan anak panah hingga membuat Hasan bersimbah darah.
             Peristiwa terlukanya Hasan dan Husain membuat Muhammad bin Abu Bakar ketakutan akan munculnya kemarahan Bani Hasyim hingga akan menimbulkan huru-hara besar. Maka dari itu, dia mengapit tangan dua orang dan berkata ” jika Bani Hasyim datang dan melihat darah yang mengalir pada wajah Hasan , mereka tidak akan memperhatikan lagi maslah Utsman daan gagalah apa yang kita inginkan. Oleh karena itu, pergilah kalian berdua bersama kami hingga kita memanjat pagar dan kita bunuh dia tanpa ada seorangpun yang tahu. “Muhammad bin Abu Bakar  bersama dua orang temannya memanjat pagar rumah Utsman dari salah satu rumah orang Anshar hingga Akhirnya mereka bisa masuk ruangan Utsman. Orang-orang tidak tahu siapa yang ada bersama Utsman sebab para penghuni rumah berada di bagian atas rumah, sementara yang ada bersamana Utsman hanyalah istrinya.
            Muhammad berkata kepada kedua orang temanya, “Tinggallah kalian ditempat sebab berada bersama dengan istrinya. Aku yang akan masuk terlebih dahulu. Jika aku telah masuk dan meringkusnya maka masuk terlebih dahulu. Jika aku telah masuk dan meringkusnya maka masuklah kalian, lalu pukullah dia hingga mati.” Muhammad bin Abu Bakarpun masuk, lalu dia memegang jenggot  Utsman, Utsman berkat,” Demi Allah, andaikan ayahmu melihat apa yang kamu lakukan kepadaku, niscaya dia akan sangat tidak senang dengan sikapmu kepadaku ini”.
             Mendegar ucapan ini,Muhammad bin Abu Bakar Menarik tanganya, setelah itu, masuklah dua orang tadi dan memukul Utsman hingga mati. Mereka melarikan diri melaalui tempat mereka masuk. Istri Utsman berteriak histeris, namun teriakanya tidak terdengar karena didalam rumahnyaterjadi kegaduhan. Istri Utsman naik keatas rumah menemui orang-orang yang ada disana. Dia berkata, “Amirul Mukminin telah dibunuh”.
            Orang-orang yang ada ditempat itu segera masuk. Ternyata mereka mendapatkan Utsman disembelih. Kemudian, Ali mendatangi istri Utsman untuk menanyakan siapa pembunuhnya.  Istri Utsman berkata, “Aku tidak tahu. Ada dua orang yang masuk yang tidak aku ketahui siapa dia. Bersama dua orang itu adalah Muhammad bin Abu Bakar .”
            Dia mengabarkan kepada Ali perbuatan Muhammad bin Abu Bakar. Kemudian, Ali memanggil Muhammad dan menanyakan kepadanya tentang yang diceritakan oleh istri Utsman. Muhammad bin Abu Bakar berkata, “Dia tidak bohong. demi Allah, aku masuk kedalam kamarnya dan aku bermaksud untuk membunuhya. Namun, dia mengigatkanku akan ayahku. Maka dari itu,aku berdiri dan bertobat kepada Allah. Demi Allah, aku tidak membunuhya dan tidak pula menyentuhnya.” Istri Utsman berkata,” dia benar, namun dialah yang memasukan dua orang itu ke dalam rumah.” [9].

E. Masa Kekhalifahan Ali bin Abi Thalib(36-40 H/656-670 M)
1. Bai’at Ali 
            Ketika Utsman bin Affan terbunuh masyarakat berlarian menuju Ali bin Abi Thalib lalu berebutan membai’atnya, sehingga ia berkata: “Tidak ada hak atas itu, karena hak tersebut adalah hak para pejuang yang terlibat dalam perang Badar. Dimanakah Thalhah, Az-Zubair, dan Sa’d? Kemudian mereka datang dan membai’atnya. Selanjutnya kaum muhajirin dan kaum anshar membai’atnya pula. Sesudah itu masyarakat luas mengikutinya. Peristiwa ini terjadi pada hari jum’at, 13 dzulhijjah 35 H. Tercatat bahwa Thalhah adalah orang pertama yang membai’atnya.
2. Peristiwa yang Terjadi pada Masa Ali
a. Perang Jamal
            Ketika kabar pembunuhan Usman sampai kepada Aisyah ra, ia mengajak orang-orang untuk melakukan pembalasan terhadap pembunuh Usman, diantara saudara sahabat yang bersama Aisyah adalah Thalhah dan Zubair. Kemudian mereka berangkat ke Basroh untuk berperang. Ketika kabar tersebut sampai pada Khalifah Ali, khalifah mempersiapkan tentara untuk menghadapi pasukan Aisyah.
            Setelah kedua pasukan bertemu, maka terjadilah perundingan damai antara keduanya. Namun, para pembunuh Usman takut untuk dibunuh, maka merka merusak perjanjian. Maka berlangsung lah pertempuran antara pasukan Aisyah dan Ali. Dan kemenangan ada di pihak Ali. Dalam pertempuran tersebut, sahabat Thalhah dan Zubair terbunuh.
            Perang ini dinamakan nama Jamal (unta) karena pada saat itu Saidah Aisyah mengendarai unta. Setelah perang usai, Khalifah Ali memerintahkan Muhammad bin Abu bakar untuk membawa Aisyah kembali ke Madinah.    
b. Perang Siffin
            Perang ini terjadi antara pasukan Muawwiyah dan Ali bin Abi Thalib, karena Muawwiyah menyatakan dirinya sebagai Khalifah. di mulai pada awal bulan safar tahun 37 H. Pada hari ke 8 bulan safar, bertemu dua pasukan dan berlansunglah peperangan selama 3 hari yang diakhiri dengan kekalahan Muawwiyah. Kemudian Amar bin Ash (pemimpin pasukan Muawwiyah) mengangkat Mushhaf Al-Qur’an di atas tombak sebagai isyarat Tahkim (perdamaian dengan Al-Qur’an). Ali mengetahui isyarat tersebut hanyalah tipu daya untuk menghentikan peperangan. Dalam menghadapi situasi ini, tentara di pihak terbagi menjadi 2 kelompok. kelompok pertama, setuju dengan pendapat Ali untuk meneruskan peperangan, dan kelompok kedua menuntut untuk melaksanakn tahkim. karena jumlah kelompok kedua lebih banyak, maka Sayyidina Ali mengikuti pendapat yang kedua. Yaitu mengadakan tahkim.
 - Proses Terjadinya Peristiwa Tahkim
            Untuk melakukan tahkim penduduk Syam memilih Amar bin Ash, dan penduduk Irak memilih Abu Musa al-Asyari untuk memutuskan hukum antara Ali dan Muawwiyah.Maka berkumpullah kedua orang tersebut pada bulan ramadhan tahun 37 H dan sebuah tempat yang bernama Daumatul Jandal. Dari pertemuan tersebut, disepakati keputusan untuk memecat Ali dan Muawwiyah, kemudian pemilihan khalifah diserahkan kepada keputusan masyarakat.
            Setelah itu, Abu Musa al-Asyari mengumumkan hasil kesepakatan tersebut kepada golongannya yaitu pengikut Ali bin Abi Thalib. Adapun Amar bin Ash ia melakukan kecurangan dengan mengumumkan keputusan ke para pengikutnya (pengikut Muawwiyah) bahwa hasil keputusan memecat Ali dan menetapkan Muawwiyah sebagai khalifah. Karena kecurangan itu, maka para pengikut Muawwiyah membai’at nya sebagai khalifah.
c. Perang Nahrawan
             Perang ini terjadi antara pasukan Khawarij dan pasukan Ali bin Abi Thalib. Khawarij adalah orang-orang yang keluar dari pasukan Ali pada perang Siffin karena khalifah Ali menyetujui tahkim. Sebanyak 12.000 pasukan Khawarij berkumpul di Nahrawan, merka membunuh anak-anak dan para wanita. Maka Khalifah Ali mendatangi mereka dan menasehati mereka, namun mereka enggan. Maka terjadilah peperangan antara keduanya yang berakhir dengan kemenangan di pihak Ali.[10]       
3. Wafat Ali
            Ketika Ali sedang dihadapkan kepada berbagai problema yang ditimbulkan oleh para sahabat yang mendurhakai, di lain pihak Muawiyah bin Abu Sufyan berhasil menduduki Mesir melalui ‘Amr bin Al’Ash. Kemudian ternyata Muawiyah tidak hanya menduduki Mesir, melainkan ia juga memproklamirkan diri sebagai khalifah. Ali menyadari bahaya yang ditimbulkan karenanya, sehingga ia pun segera menghimpun tentara sebanyak empat puluh ribu guna menyerang Muawiyah. Tetapi saat pasukan tentara akan segera bergerak, Abdurrahman bin Muljam al-Khariji berhasil menikam Ali dengan pedang beracun pada sehingga ia wafat pada tanggal 17 Ramadhan 40 H.
            Peristiwa terbunuhnya Ali ini adalah suatu tindakan kriminal terencana yang disepakati oleh tiga orang dari kalangan kaum khawarij. Mereka telah sepakat untuk membunuh Ali, Muawiyyah, dan Amr bin Al-Ash dalam satu hari yang sama agar umat Islam terhindar dari perang yang memperebutkan kursi khalifah. Namun, hanya Ibnu Muljamlah yang berhasil. Ia berhasil membunuh Ali bin Abi Thalib RA, sedangkan kedua temanya gagal membunuh Muawiyah dan Amr bin al-Ash. Dengan wafatnya khalifah Ali, maka berakhirlah masa Khulafaur-Rasyidin.[11]

F. Berakhirnya Masa Khulafaur Rasyidin           
            Setelah wafatnya sayyidina Ali bin Abi Thalib, kaum muslimin mengangkat Hasan menjadi Khalifah. namun, sayyidina Hasan tidak ingin lagi terjadi pertumpahan darah antara kaum muslimin, maka ia menyerahkan jabatannya kepada Muawwiyah dengan syarat-syarat sebagai berikut :
1). Muawwiyah tidak boleh mencaci maki kepada Ali bin Abi Thalib dan keluarga Ali bin Abi thalib.
2). Apabila habis masa jabatan Muawwiyah, jabatan tidak boleh diturunkan kepada anak dan keluarganya, jbatan harus diserahkan kepada keputusan kaum muslimin.
            Peristiwa ini terjadi pada tahun 41 H, tahun ini disebut dengan Amul jama’ah (tahun persatuan). Namun Muawwiyah mengingkari janjinya, ia menyerahkan jabatan kepada anaknya Yazid. Maka dengan ini berakhirlah corak kepemimpinan Khulafaurrasyidin yang demokratis menjadi sistem kerajaan.





BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
            Masa khulafaur Rasyidin dimulai dengan kepemimpinan Abu Bakar yang proses pengangkatan Abu Bakar merupakan inisiatif dari umar yang kemudian disetujui kaum muslimin, dilanjutkan dengan kepemimpinan Umar yang pengangkatanya merupakan wasiat Abu Bakar yang telah di sepakati umat, kemudian pengangkatan Utsman atas formatur Umar, dan diakhiri dengan kepemimpinan Ali yang di bai’at oleh Ahlu madinah.
            Peristiwa penting yang terjadi pada masa khulafaur Rasyidin adalah adanya tindakan pembersihan perang Ridah, nabi-nabi palsu dan kaum murtad, ditaklukannya Persia, perang shiffin, Tahkim, penaklukan Damaskus, Suriah, Mesir, Irak, Afrika Sifrus, Armenia, Kabul, Farghanah,dll. Kontribusi mengumpulkan Alquran,penahanan administrasi Negara,penanggalan islam dari awal hijrah Nabi, penyusunan  al-Qur’an Mushaf Utsmani, dan perluasan masjid Nabawi.


B. Saran
            Demikian makalah kami tentang sejarah islam masa khulafaur Rasyidin, kami mengharap kritik dan saran dari pembaca apabila terdapat kekeliruan dan kekurangan.


DAFTAR PUSTAKA

Abu Bakar, Istianah, 2008. Sejarah Peradaban Islam.  Malang: UIN Malang
Hasan, Hasan Ibrahim, 2006. Sejarah dan Kebudayaan Islam 1. Jakarta: Kalam Mulia
Imam As-Suyuthi, 2010. Tarikh Al-Khulafa. Jakarta: Mizan Publika
Mahmudunnasir, Syed, 1988. Islam Konsepsi dan Sejarahnya. Bandung: Remaja   Rosdakarya
Shabran, 1933. Sejarah Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada


[1] Istianah Abu Bakar, M. Ag  Sejarah Peradaban Islam,  (Malang: UIN Malang, 2008) hal. 28
[2] Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah  dan Kebudayaan Islam 1, (Jakarta: Kalam Mulia, 2006) hal. 396
[3] Syed Mahmudunnasir, Islam konsepsi dan sejarahnya,(Bandung:Remaja Rosdakarya, 1988) hal 142
[4] Shabran, Sejarah Islam,(Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1993) hal.41
[5]  Syed Mahmudunnasir, Islam konsepsi dan sejarahnya, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1988) hal. 145
[6]  Syed Mahmudunnasir, Islam konsepsi dan sejarahnya, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1988) hal 150-158
[7]  Syed Mahmudunnasir, Islam konsepsi dan sejarahnya, (Bandung, Remaja Rosdakarya, 1988) hal 159
[8] Imam As-Suyuth,i Tarikh Al-Khulafa,(Jakarta, Hikmah/ PT Mizan Publika, 2010) hal. 181-183
[9] Imam As-Suyuthi, Tarikh Al-Khulafa,(Jakarta, Hikmah/ PT Mizan Publika, 2010) hal 159

[10] Umar Abdul Jabbar, Khulashoh Nurul Yaqin jilid III, (Surabaya: Maktabah Hikmah, 2010) Hlm. 53
[11] Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah  dan Kebudayaan Islam 1, (Jakarta: Kalam Mulia, 2006) hal. 519

Tidak ada komentar:

Posting Komentar