Sabtu, 09 April 2016

Bagaimanapun

Ahad, 9 April 2016. 09:18 pm

Bagaimanapun, selepas isya tadi, segala sesuatu telah berhasil membuatku bersedih. Aku harus bagaimana? menyesali mataku yang tak mampu melihat ini? Sesosok bayangan diseberang sana, terhalang gerimis, seorang teman lama yang masih kuharapkan mendekatnya silaturrahmi. Ingin rasanya menyapa, bahkan hanya sekedar berkata apa kabar. Bagaimana aku bertanya? kedua mataku melihatnya, tapi tak mampu mengenali wajah siapa diseberang sana. Betapa sombongnya aku dimatanya. Betapa pilunya hatiku setiap kali situasi ini terjadi. Siapa yang harus kusalahkan? Mata inikah?

Bagaimanapun. Saat orang yang kamu harapkan untuk bertegur sapa denganmu kini membencimu dan menyalahkanmu, tetap saja ini adalah rasa sakit. Bukankah rasa sakit itu cobaan?. Bukankah ketika sabar menghadapinya itu adalah dosa-dosa yang berguguran?. Maka aku harusnya sabar. Sabar menghadapi pedih ini. Tenaglah diriku. kita punya Allah. Allah tidak membebani hambaNya melebihi batas sanggupnya. Allah pastikan sesuatu yang terbaiklah yang telah terjadi hari ini.

Bagaimanapun, ketika seseorang mampu bersabar, inipun karunia dari Allah.
Bagaimanapun, ketika Allah menimpakan kepedihan, Dia pula yang menganugerahkan kesabaran.
Bagaimanapun, tenanglah. Kau punya Allah yang akan membuat baik semua kesudahan.


Sabtu, 12 Maret 2016

13 Maret 2016

Malaikat, Maafkan aku lagi atas pemandangan yang tak menyenangkan pagi ini. Jangan menangis, aku mohon. Untuk apa seorang malaikat suci sepertimu menangis dihadapanku. Menangisi akukah yang telah meruntuhkan segenap perjuangan? Atau menangisi dia dan mereka yang mengelilingi hidupku dengan doa dan cinta?

Malaikat, aku tahu sebelum ini kau menjagaku dan berusaha menarikku kembali. Namun sayangnya, kali ini kau tak tersentuh untuk dapat melindungiku. Pintumu tanpa sengaja telah kututup, dan dengan sadar kubuka pintu-pintu yang lain.

Malaikat, tanyakan pada kekasihku apakah dia marah? Bodohnya aku bertanya seperti ini, tentu dia marah. Tapi masih adakah celah untuk menerimaku lagi seperti hari-hari sebelumya?

Malaikat, kamu pasti tahu. Tak pernah ada tujuan lain dihidupku selain untuk kekasihku. Namun kadang, orang-orang merayuku bertubi-tubi untuk sebentar berpaling dari kekasihku. Dan akhirnya aku terjatuh, lari, dan terlepas dari genggaman kekasihku.

Malaikat, aku tahu bahwa kekasihku pasti tahu betapa pilunya aku saat ini. Betapa aku selalu menyesali dan selalu ingin kembali pulang. Namun, aku ragu. Aku tahu kekasihku akan selalu menerima kepulanganku. Menyambutku dengan senyum dan cintanya. Namun aku takut setelah kepulangan ini aku akan lepas dan berlari lagi, aku takut. Aku tak pernah rela jika aku melukainya lagi. Jika aku pulang, aku ingin disana selamanya, tanpa pernah berlari lagi. Aku ingin disampingnya, aku ingin dipeluknya.

Kekasihku, Yang Maha

Senin, 28 Desember 2015



Senin malam, 29 Desember 2015  1:23 wita

Masa depanku dan masa laluku kini hampir tak terlihat. Ingin menangis rasanya. Perlahan dan secara bersamaan aku berada disuatu titik yang tak kukenali, yang tak ingin kumasuki. Untuk apa semua ini?. Hukumankah? Harapanku seolah luntur tak berbekas, hancur berkeping-keping.. Bagaimana ini? Hidup seperti ini, aku lelah.

Wahai Allah, aku tak punya pengharapan lagi selain padaMu, yang Maha Menyembuhkan. Sembuhkanlah aku, penyakitku ini,. Harapanku hancur saat semua orang berkata aku tidak mungkin sembuh. Tapi Allah, bukankah Engkau Maha segalaNya. Tidak ada yang tidak mungkin bagiMu.

Wahai Allah.