Minggu, 31 Mei 2015

ukhuwah islamiyah#kita satu



Saya membenci semua pertikaian ini. Kita muslim, sama-sama bertuhan Allah. Sama-sama berasul Muhammad Saw. tapi mengapa pertikaian, saling menyalahkan, merasa pendapat sendiri adalah paling benar, dan menganggap orang lain diluar golonganya adalah salah?
NU, Muhammadiyah inilah pertikaian dikelas saya tadi siang pada mata kuliah Pengantar Studi Islam. Seputar pertanyaan dan pernyataan mengapa kalian bermazhab? mengapa kalian berziarah ke Sekumpul (Martapura, Kalsel)? Mengapa kalian percaya kepada wali? dll.
Panas? Tentu saja kami panas. Tapi sayangnya kami belum mampu mengemukakan dalil-dalil yang pasti yang menyokong pendapat kami masing-masing. Terlalu naïf jika saya harus mengatakan maklum kami tidak kenal dalil, Karen kami mahasiswa jurusan bahasa inggris bukan mahasiswa jurusan pendidikan agama islam, bukan mahasiswa jurusan tafsir hadits, bukan mahasiswa jurusan dakwah dan sebagainya. Juga terlalu naïf jika saya katakana bahwa kami masih muda, serta hidup dizaman gadget dan teknologi. Jawaban naïf tapi ada benarnya juga,hehe
Jujur saya sakit hati dengan kejadian tadi siang. Dimana saudara sesama muslim menginjak-nginjak akidah saudaranya yang lain. Ini adalah tamparan hebat buat saya dan kita semua, ini adalah pr buat kita. Setidaknya kita jangan taklid buta, kita harus mengetahui dasar dan dalil akidah kita selama ini. Sehingga jika ada yang mencoba menyelisihi dan menggoyahkan kita, kita mampu menepis dan memberi argument yang kuat.
###
Saya heran dengan orang-orang yang suka mencari kesalahan-kesalahan orang lain, tak perduli kawan atau lawan. Padahal jelas-jelas Rasulullah mengatakan perbedaan itu adalah rahmat dalam umatnya,wallahu a’lam. Pernah suatu hari saya menginap di kos teman saya yang dekat dengan masjid Muhammadiyah. Lalu saya menemukan mereka sholat tanpa menyringkan bacaan bismilah pada al-fatihah. Nah karena saya yaa gak tau dalil mereka, masih sedikit ilmu, dan merasa aneh, lalu saya telpon ayah saya. Lalu saya bercerita “ayah, para Muhammadiyah al Fatihahnya gak menyaringkan bismillah” lalu ayah saya berkata “ Lalu kamu mengira mereka sesat? Mereka punya dalil yang kuat. Dan kitapun juga punya dalil. Jangan hanya karena mereka tidak sefaham dengan kita, kita mengatakan mereka sesat dan kitalah yang paling benar. Jangan su’udzhon. Ingat mereka juga punya dalil seperti kita”. Lalu saya menjawab “Inggih, pun. Naam. iya ayah”.
Nah ini sikap yang saya rindukan, awal mula saya menghargai perbedaan dan gak memandang sebelah mata lagi kepada Muhammadiyah. Namun yang saya sayangkan, ada-ada saja orang-orang  yang mencoba mengorek-ngorek dan mencari cara dan alasan untuk memfatwakan sesat kepada orang lain. Disaat kelompok lain sudah punya dalil, lalu serta merta mengatakan bawa dalil itu sesat, gak shohih, haditsnya maudhu,dhoif dan sebagainya. Yang menentukan hadits itu dhoif, shohih, hasan, dsb kan gak satu ulama saja. Misalkan Imam Bukhari mengatakan bahwa sebuah hadits dhoif, namun imam yang lain mengatakan shohih. Lalu yang mana yang mutlak benar? toh mereka sudah mengkaji hadits dengan sungguh-sungguh seumur hidup mereka dalam bidang ilmu ini. Kita apa? kita siapa? Menuduh palsu hadits orang lain yang bertentangan dengan ajaranya. Contohnya perbedaan ulama mazhab dalam menafsirkan ayat “famsahuu biru’usikum”, Imam Syafi’I memahami hanya sebagian kepala, sedangkan Imam Ahmad bin Hambal memahami seluruh bagian kepala. Lalu apakah mereka sesat, salah? Toh kedua contoh diatas sama-sama hanya berupa perbedaan pendapat dari orang-orang yang ahli dalam bidangnya. Yaaa mungkin orang-orang ini adalah tipe orang yang sangaaaaaaaaaaaaaaat perhatian. Mengapa? Mengapa kalian seperti ini?.
Dan ngomong-ngomong soal perbedaan pendapat ada sebuah kisah dan perbandingan yang pernah disampaikan oleh dosen saya bapa Muhammad Iqbal. Beliau menceritakan kepada kami tentang kejadian pada masa Rasulullah Saw. yaitu dimana pada saat itu Rasulullah Saw. memberangkatkan serombongan sahabat menuju Bani Quraizhah, dan Rasulullah berpesan “jangan kalian sholat ashar kecuali ketika sampai disana”(insyaAllah redaksinya seperti itu). Lalu ternyata setelah berlalu waktu waktu ashar hampir habis, dan perjalanan menuju bani kuraizhoh masih jauh,dan mereka tidak mungkin sampai disana kecuali waktu ashar telah habis. Maka sekelompok sahabat berbeda pendapat, ada yang mendirikan sholat saat itu juga diperjalanan, dan ada yang tidak sholat ashar karena menunggu sampai dulu ke Bani Kuraizhoh. Golongan pertama berpendapat bahwa Rasulullah hanya menyarankan kita untuk berjalan dengan cepat agar sebelum habis waktu ashar kita sudah sampai di Bani Kuraizhoh. Golongan kedua berpendapat bahwa Rasulullah benar-benar memerintahkan hanya sholat ashar di bani kuraizhoh. Ternyata setelah sampai, mereka menanyakan hal ini kepada Rasulullah, yang mana yang benar. Lalu apa reaksi Rasulullah? Ternyata Rasulullah mengatakan bahwa kedua-duanya benar. Dimana letak kebenaranya? Karena pendapatkah? Bukan. Karena mereka punya satu niat yang sama, yaitu mentaati Allah. Mentaati perintah Rasulullah sang pesuruh Allah. Mereka berbeda jalan dalam memahami hadits ini, mereka berbeda pendapat. Namun kedua-duanya benar. Karena satu niat yang sama yaitu ingin entaati Allah.
Jadi, So... Mereka yang kalian sesatkan, yang kalian anggap sesat, yang kalian anggap salah, yang berbeda pendapat dengan kalian.. Stop melakukan penistaan terhadap mereka. JIka tujuan kalian adalah mentaati Allah, merekapun punya tujuan yang sama. Dalil dan pendapat yang beda itu bukan penentu mutlak kesalah-benaran orang lain. Jadi mohon, intropeksi diri. Renungi hadits diatas.
Dan satu lagi saran saya, dari pada sibuk mencaci-maki lebih baik kita berdoa, saling mendoakan untuk ditunjukan kejalan yang lurus, dengan doa yang familiar ditelinga kita, dengan doa yang Allah memerintahkanya untuk dibaca disetiap sholat-sholat kita :
اهدنا الصراط المستقيم
Ya, itu surah al-Fatihah ayat 6, mengapa kita disuruh membaca ayat yang mengandung doa tersebut di setiap rakaat sholat kita? bahkan Rasulullah pun membacanya.. Mengapa? Karena kita semua takut tersesat.
Jadi, So....(lagi), kesimpulan saya..........
1. Hargai pendapat dan dalil mereka, jangan samakan yang punya dalil yang enggak dong. hellooo it’s really different(haha soir kloo salah)
2.  Jangan taklid buta, setidaknya kamu harus tahu dalilnya agar kamu gak sesat okeee
3. Saling mendoakan semoga kita semua selalu ada dijalanya yang lurus
4. Jangan Suudzon sama orang lain, kadang kita menuduh seseorang karena salah memahami pemahaman mereka. Misalnya sekelompok orang memahami aaaa, lalu kita memahami bahwa yang mereka pahami adalah bbbb, dan bbbb adalah kesesatan misalnya. Lalu kita menganggap mereka sesat karena pemahaman kita sendiri yang mengatakan bahwa mereka berpaham bbbb, padahal mereka sebenarnya punya pemahaman aaaa
Makin bingung?? Ya udah ambil yang fahamnya adza...
Mungkin sekian. Salah khilaf mohon maaf
yang benar berasal dari Allah dan yang salah berasal dari diri saya sendiri
Wassalamualaikum, salam ukhuwah

Jumat, 24 April 2015

CANDu



CANDU

Sajak dosa yang tak ubahnya seperti rindu
Tak terbenduug.....

            Siang yang lenggang. Udara panas seakan membius semua orang untuk tertidur. Minimal malas membuat mereka keluar rumah. Tapi tidak dengan Rio. Ini adalah kesempatan untuknya. Sudah tujuh buah warung Rio datangi. Seolah membandingkan harga, dia membeli barang yang sama disetiap warung yang telah dan akan didatanginya. Incaran Rio adalah sejenis obat batuk, bentuknya bulat, kuning, bertuliskan SF, atau lebih sering disebut dengan dextro. Ya, untuk menutupi kecurigaan orang-orang, dia membeli dalam jumlah sedikit di tiap warungnya.  Dan kini, ia telah mendapatkan obat tersebut berjumlah duapuluh keping.
            Selesai “berbelanja”, Rio segera pulang kerumah dan mengunci rapat pintu kamarnya. Ritualpun dilakukanya. Ya, dan kini pikiranya melayang bagai awan. Nikmat. Hilang semua beban.

***
Adzan magrib. Lantunan puisi-puisi senja.
            Rio berangkat kemesjid dan sholat berjamaah. Hati tak semudah melangkah. Langkah kaki yang ringan, namun menyimpan rasa malu dan takut. Tak mudah bagi Rio menghadapkan hatinya kepada sang pencipta. Sholat? Bertemu langsung? Berbicara kepadaNya?. Bagaimana mungkin ia menghadapNya dengan keadaan dosa seperti ini.
            Dia malu. Malu kepada yang Maha Mengetahui. Namun dia harus, sholat adalah kewajiban. Tak mudah bagi seorang pendosa untuk menghadap langsung kepada tuhanya. Terlebih, baru tadi siang Rio bermaksiat kepadaNya, “ Ya Rabbi, ampuni dosa hamba. Beri hamba kekuatan untuk melawan maksiat ini”, pinta Rio disetiap doanya.
***
Candu. Tak ubahnya bagai rindu. Datang kapan saja, menjadi sengsara jika menahanya.
            Beban batin yang tersimpan rapat dihati Rio, bermula sekitar tiga tahun yang lalu. Ketika itu Rio kelas tiga SMP. Ia coba-coba ikut teman-temanya mabuk-mabukan dengan obat tersebut. Bagai terikat tali yang panjang, sekali mencoba, kamu takan lepas, kamu akan terus ketagihan. Beginilah candu.
            Takdir menggiring bagai angin. Lulus SMP Rio melanjutkan belajar kesebuah pondok pesantren. Dari sana, akhirnya hari-hari Rio menjadi penuh makna. Jalan-jalan suci bagai datang dari segala arah. Gemblengan dari para ustadz di pesantren membuatnya mantap untuk taat dan mencintai Allah.
            Namun, ada satu goresan tragis yang belum dia kalahkan. Ialah candu. Kecanduanya pada obat-obatan tak mampu dilawanya dengan mudah. Semakin ia berusaha untuk lepas, maka semakin kuat hasratnya untuk kembali meneenggak obat-obatan. Rio telah mencoba sekuat tenaga. Dia ingin sempurna dalam taat. Ia terus berjuang, Namun terus pula gagal. Saat maksiat menjadi candu, sulit untuk kembali.
***
             Daaaaar. Petir menggelegar. Seolah-olah menyambar sesuatu dengan sangat murka. Benar saja, seorang pemuda didesa Rio tersambar petir dan mati mengenaskan. Usut punya usut, ternyata pria ini mati dalam keadaan sedang mabuk. Rio ikut mensholatkan dan menghadiri pemakamanya. Namun pemandangan seketika menjadi menakutkan. Dimata Rio, menakutkan hanya untuk Rio. Ya, hanya Rio yang melihat pemandangan ini.
            Sebuah pohon tua, dekat pria itu dimakamkan. Disana terlihat ratusan makhluk-makhluk aneh yang menyeramkan. Ada yang wajahnya menyerupai anjing, hitam legam dan bermata merah. Ada yang wajahnya dipenuhi dengan nanah dan ulat, dan ada yang wajahnya membusuk terkoyak. Mereka semua tertawa. Bertepuk tangan. Seolah telah mendapat kemenangan besar. Tangan-tangan hitam mereka memegang botol-botol minuman keras. Mereka bersulang. Tertawa, terbahak, dan bersorak-sorak.
            Pemandangan yang mengerikan untuk Rio. Mereka inikah yang menjadi teman bagi seorang pecandu?, Rio membatin.
            Satu persatu pelayat meninggalkan makam, pun satu persatu makhluk mengerikan tersebut lenyap dari pandangan. Rio segera berbalik arah untuk pulang. “Itukah keadaan orang yang mati ketika bermaksiat?, saudara setan dan iblis dineraka. Menjadi kayu bakar api neraka bersama mereka” bisik Rio menanyakan nuraninya. Seketika air mata Rio tumpah, sebuah kekuatan, petunjuk, dan jawaban atas semua doa-doanya.
            Sejak hari itu, Rio berhenti dari “ritual”nya. Kini dimata Rio, candunya telah menjelma menjadi wajah-wajah menyeramkan yang ia lihat kala itu, dimakam itu.
***
Petunjuk gak akan kita dapat jika murni dengan usaha yang kita miliki. Kita harus selalu berdoa dan memohon kepadaNya untuk mendapatkanya. Allah memberikan petunjuk kepada hamba yang dikehendakiNya semata-mata karena Rahmat dan KaruniaNya.

Kisah klasik hari ini



Jum’at, 24 April 2015_20:24

Hari yang melelahkan, dan hati yang lelah. Hari ini Aau membelikan buah naga horeeeeeeeeeeeeeeee. Hari ini Leha dan Upay jalan-jalan ke kos aku,haha katanya kuangeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen bingits sama aku. Tapi hari ini pun membuatku sedih.... Hari ini ka Fetem ke IAIN, tapi aku gak bias nyamperin, Maaf ya kaka... Hari ini acil Jamil marah sama aku. Entahlah.. Aku becandanya kelewatan? Mungkin. Aku pura-pura marah sama acil dan gak ngegubris semua sapaan-sapaan dia ke aku. eh ternyata beliau balik marah dan ngambek dan yaaa begitulah. Yaa udah aku ngalah, aku minta maaf sama beliau, tapi ternyata dan ternyata beliau gak mau maafin aku.. Yaa udaaahlah moga Allah maafin aku, aku udah minta maaf berkali-kali tapiiiii “nihil”. Aku pengen banget sebenarnya jahat dan marah juga sama dia, tapiiiiiiiiiiiiiii pesan ayah itu loh yang mbuat aku KO. Ayah berkata: “Sejahat apapun orang sama kita, kita harus tetap baik. Suatu saat dia akan sadar, InsyaAllah”. Nooooo kata-kata itu sangat membekas buat aku. Dilontarkan ayah ditengah-tengah ceritanya saat aku pulkam dulu. Ayah I miss u. Mama I love u. Tapi ayah, sebenarnya aku udah sering melanggar nasehat ini. Dan aku pura-pura marah tadi sebenarnya efek dari kekecewaan aku dan lupa dengan nasehat ayah. Aku ingin buka hatinya sedikit aja supaya dia merasakan sedikit kekecewaan aku,yaaaah ternyata responya tidak sesuai dengan yang aku harapkan. Dan by the way soal harapan yang diharapkan, itu kan ada sangkut pautnya tuh ama takdir. Noooooh aku jadi ingan bapa Muhammad Iqbal dosen filsafat umumku. Aku fens bingitssssssssssssss ama beliau.
Tentang bapa Iqbal
Pertama kenal or pertama beliau ngajar aku melihat kedisiplinan beliau dan kehebatan, kecerdasan, dan keberanian beliau. Hari pertama masuk mata kuliah beliau, kami tersesat karena gak tau local kuliyah, dan beliau dengan setianya menunggu diruang kelas selama satu setengah jam menunggu kedatangan kami, hehe........ Lalu beliau memperkenalkan diri. Dari serita beliau, kami sangat takjub. Why? Because hampir setiap tahun beliau pindah-pindah sekolah dari SD hingga SMA. Lalu saat beliau kuliyah, aku lupa nama kampusnya kalau gak UIN Malang berarti UIN lain dipulau jawa.hehe Ceritanya kan saat kuliyah beliau mengambil jurusan filsafat umum, dan seperti kita ketahui mata kuliah agama dan umum biasanya adalah mata kuliah tambahan yang wajib untuk mahasiswa. Iyakaaaaaaaaaaaaaan? Tapiiiiiiiii bapa Iqbal merasa gak perlu itu semua. Toh beliau niatnya belajar filsafat bukan mata kuliyah lain. Jadinya ya semua mata kuliah yang gak berhubungan ama duni kefilsafatan tidak beliau ikuti, dan hasilnya jreng.. jreng tentu saya enggak lulus. Dan itu berjalan hampir bertahun-tahun. Dan kemudian ada bisihan hati dari ayah beliau yang mempertanyakan berapa tahun lagi beliau akan lulus serta akhirnya beliau menyadari bahwa beliau enggak bias melawan sistem dan peraturan kampus, makaaaaaaaaaaaa beliau taubat dan akhirnya lilus.
Naaaaaaaaah berangkat dari cerita tersebut, kemudian kami memberi beliau gelar kehormatan dengan sebutan “bapa stand of comedy” hehehehehehehe.
{tangan mulai keriting, perut mulai lpar, aku makan dulu yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa}

wahai Allah...



Rabu, 22 april 2015_18:18 Wita

Wahai Allah..
Diantara semua kebenaran ini, diantara semua orang yang mengaku dia adalah golongan yang paling benar, Beri kami petunjuk wahai Allah, kejalanMu yang lurus..
Karena kebenaran yang hakiki hanya padaMu, karna petunjuk hanya dariMu
Wahai Allah,
Bimbinglah kami kejalan RasulMu,al-Musthofa Muhammad Saw.
Bimbinglah kami menjadi golongan yang terpilih, yang disebut-sebut sebagai ahlussunnah wal jama”ah
Wahai Allah..
Diantara semua golongan yang menganggap dirinya adalah paling benar
Jadikan kami orang yang menapaki jalan kebenaran yang Engkau Ridhoi
Sayangi kami ya Allah
***
Pernah seorang teman bertanya, “Diah kamu muhammadiyah apa NU?”, aku jawab gak dua-duanya. Dengan lantang aku menjawab “aku ahlussunnah wal jama”ah” hehe maaf. Jawaban itu adalah sebuah kekhilafan. Bagaimana mungkin aku dengan PDnya mengaku aswaja, sementara hati, sikaf, dan tindakan masih jauh dari kata sholihah. Yaaah.. jawaban spontan. Karena untuk memilih diantara dua jawaban diatas, aku merasa gak pernah ambil bagian dari keduanya. Seharusnya aku menjawab “Aku aswaja, amiin dan insyaAllah”.
NU?, aku gak pernah merasa masuk kedalam organisasi tersebut. Muhammadiyah?, banyak ilmu yang diajarkan ustadz-ustadzah aku bertentangan sama mereka. Lalu aku masuk mana????
Aku tumbuh dilingkungan pesantren salafiah, aku diajarkan mencintai para habib dan kekasih-kekasih Allah. Aku diberi kesempatan dipertemukan dengan para wali dan kekasihnya. Aku mereguk ilmu dan berkah dari para ustadz dan ustadzah yang sholih dan sholihah, yang wajah-wajah mereka memancarkan nur.. Nur dari Allah Swt.
Jadi kesimpulanya, aku sedang meniti jalan para sholafussholih, aswaja InsyaAllah. Semoga kita semua menjadi hambaNya yang aswaja.Amiin.